Jelang Apel Akbar 10 Ribu Kader; Pemuda Katolik, ISKA, dan LKLM Gaungkan Gerakan Kalesang Alam Tanimbar

SAUMLAKI, FordataNews.com — Menjaga kelestarian lingkungan dan memastikan pengelolaan sumber daya alam berpihak pada kepentingan masyarakat lokal menjadi perhatian Lembaga Kalesang Lingkungan Maluku (LKLM).

Melalui program Kalesang Alam Tanimbar, LKLM bersama Pemuda Katolik Komisariat Cabang (Komcab) Kabupaten Kepulauan Tanimbar dan Ikatan Sarjana Katolik (ISKA) mendorong gerakan pelestarian lingkungan yang berkelanjutan dan berbasis masyarakat adat.

Ketua Lembaga Kalesang Lingkungan Maluku sekaligus Ketua Apel Akbar 10 Ribu Kader Pemuda Katolik Maluku, Costantinus Kolatfeka, kepada media ini menjelaskan bahwa program tersebut dirancang untuk memperkuat ketahanan ekologi dan ekonomi masyarakat lokal di Kabupaten Kepulauan Tanimbar melalui perlindungan lingkungan hidup serta pemanfaatan sumber daya alam secara bertanggung jawab.

Hal itu disampaikan Costantinus Kolatfeka usai pelaksanaan rapat menjelang kegiatan yang berlangsung di Restoran Dapur Tanimbar, Jumat (9/10/2026) malam.

Hadir dalam pelaksanaan rapat tersebut, Ketua LKLM sekaligus Ketua Panitia Apel Akbar 10 Ribu Kader Pemuda Katolik Maluku, Costantinus Kolatfeka; Ketua ISKA Kota Ambon sekaligus sebagai Sekretaris Apel Akbar, Matias Neis Watunglawar, S.H., M.H.; Ketua ISKA Kabupaten Kepulauan Tanimbar, Corneles Waturu; Ketua Pemuda Katolik Komcab Kabupaten Kepulauan Tanimbar, Cansus Layan, Koordinator Panitia Lokal, Mathias Alubwaman; serta Anggota Apel Akbar.

Kolatfeka katakan, gerakan tersebut akan diawali dengan aksi penanaman pohon di kawasan sumber air Desa Bomaki, Kecamatan Tanimbar Selatan, Sabtu, 10 Oktober besok. Setelah itu, kegiatan dilanjutkan dengan dialog publik bertajuk “Kalesang Alam Tanimbar: Pengelolaan Sumber Daya Alam Berkelanjutan Berbasis Masyarakat Adat untuk Ekologi yang Lestari dan Kesejahteraan Masyarakat.”

“Kedua agenda ini merupakan bagian dari rangkaian kegiatan menuju Apel Akbar Sepuluh Ribu Kader Pemuda Katolik Maluku yang dijadwalkan berlangsung pada November 2026,“ ungkap Kolatfeka.

LKLM Dorong Pengelolaan SDA yang Berkelanjutan

Kolatfeka jelaskan, melalui program Kalesang Alam Tanimbar, pihaknya maupun pihak Pemuda Katolik serta ISKA mendorong agar perlindungan lingkungan tidak berhenti pada kegiatan penghijauan, tetapi menjadi gerakan bersama yang melibatkan masyarakat, pemerintah, organisasi kepemudaan, kalangan akademisi, dan pemangku kepentingan lainnya.

Bagi ketiga organisasi ini, pengelolaan sumber daya alam perlu memperhatikan keseimbangan antara kepentingan ekonomi, kelestarian ekosistem, dan kesejahteraan masyarakat yang hidup di sekitar kawasan sumber daya tersebut.

Pendekatan ini menjadi penting bagi Tanimbar yang memiliki kekayaan sumber daya alam sekaligus kehidupan sosial dan budaya masyarakat adat yang berkaitan erat dengan tanah, hutan, air, dan wilayah petuanan.

“Karena itu, keterlibatan masyarakat adat dalam pembahasan pengelolaan sumber daya alam menjadi salah satu pokok perhatian dalam dialog publik yang disiapkan LKLM bersama Pemuda Katolik dan ISKA,“ terang Kolatfeka.

Melalui forum tersebut, berbagai pihak diharapkan dapat bertukar pandangan mengenai bagaimana sumber daya alam dikelola secara bertanggung jawab tanpa mengabaikan kelestarian lingkungan maupun kepentingan masyarakat lokal.

Bomaki Jadi Titik Awal Gerakan Kalesang Alam

Sebagai langkah konkret, aksi penanaman pohon dipusatkan di kawasan sumber air Desa Bomaki, Kecamatan Tanimbar Selatan.

“Pemilihan lokasi tersebut menempatkan perlindungan sumber air sebagai bagian penting dari gerakan pelestarian lingkungan,“ ujarnya.

Menurutnya, keberadaan kawasan sumber air tidak hanya berkaitan dengan kondisi ekosistem, tetapi juga dengan keberlangsungan kehidupan masyarakat. Namun, penanaman pohon perlu diikuti dengan perawatan dan pengawasan agar manfaat ekologisnya dapat dirasakan dalam jangka panjang.

“Karena itu, aksi penghijauan ini diharapkan tidak menjadi kegiatan sesaat, melainkan menjadi awal tumbuhnya kesadaran bersama untuk menjaga kawasan sumber air dan lingkungan sekitarnya,“ tambah dia.

Bagi LKLM dan organisasi mitra, gerakan lingkungan membutuhkan partisipasi berkelanjutan. Kesadaran ekologis harus diterjemahkan menjadi tindakan nyata, baik melalui perlindungan kawasan lingkungan maupun keterlibatan masyarakat dalam menjaga sumber daya alam di wilayahnya.

Dialog Publik Perkuat Peran Masyarakat Adat

Setelah penanaman pohon, rangkaian kegiatan dilanjutkan dengan dialog publik di Aula Kementerian Agama Kabupaten Kepulauan Tanimbar pada Sabtu sore.

Forum tersebut menghadirkan sejumlah pemateri dari unsur pemerintah, legislatif, lembaga pembangunan, dan pengelola sumber daya air.

Para pemateri yang dijadwalkan hadir terdiri atas Kepala Dinas Pendidikan Provinsi Maluku, Sekretaris Forum Komunikasi Lembaga Pelatihan Industri Maluku (FKLPID), Kepala Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Kepulauan Tanimbar, Sekretaris Bappeda Kabupaten Kepulauan Tanimbar, Ketua Komisi IV DPRD Provinsi Maluku, serta perwakilan Kepala Balai Wilayah Sungai Provinsi Maluku.

Keterlibatan berbagai pemangku kepentingan tersebut diharapkan dapat memperluas pembahasan mengenai perlindungan lingkungan, kebijakan pembangunan, pengelolaan sumber daya air, dan peningkatan kapasitas masyarakat.

Lebih jauh, dialog ini diharapkan menjadi ruang untuk membahas pentingnya menempatkan masyarakat adat sebagai bagian dari proses pengambilan keputusan terkait pengelolaan sumber daya alam.

“Sebab, keberlanjutan lingkungan tidak dapat dipisahkan dari kehidupan masyarakat yang selama ini memiliki hubungan sosial, budaya, dan ekonomi dengan alam di sekitarnya,“ ujar Ketua LKLM ini.

Pemerintah, Gereja, Ormas dan OKP Dilibatkan

Panitia juga mengundang Wakil Bupati Kepulauan Tanimbar, dr. Juliana Ch. Ratuanak, unsur DPRD Kabupaten Kepulauan Tanimbar, Pastor Moderator RD Sebastian Takndare, serta Pastor Justice and Peace RD Yono Temorubun.

Undangan turut ditujukan kepada Ormas dan OKP, Camat Tanimbar Selatan, Lurah Saumlaki, Lurah Saumlaki Utara, serta sejumlah kepala desa dari Olilit Raya, Sifnana, Lauran, dan Bomaki.

Dari unsur Gereja Katolik, peserta yang diundang meliputi perwakilan Dewan Paroki Ratu Rosario Suci Olilit Timur, Dewan Paroki Hati Kudus Yesus Olilit Barat, Dewan Paroki Santo Mathias Saumlaki, dan Dewan Kuasi Paroki Tritunggal Maha Kudus Sifnana. Sejumlah pemerhati lingkungan juga dijadwalkan mengikuti dialog.

“Pelibatan unsur pemerintah, Gereja, Ormas dan OKP tersebut diharapkan memperkuat kerja sama dalam membangun kepedulian ekologis di Kabupaten Kepulauan Tanimbar,“ harapnya.

Kalesang Alam Bukan Sekedar Seremoni

Melalui kolaborasi LKLM, Pemuda Katolik, dan ISKA, program Kalesang Alam Tanimbar diharapkan berkembang menjadi gerakan yang memberikan dampak nyata bagi perlindungan lingkungan dan kesejahteraan masyarakat.

Momentum menuju Apel Akbar 10 Ribu Kader Pemuda Katolik Maluku pada November mendatang juga menjadi kesempatan untuk memperkuat keterlibatan generasi muda dalam menjawab tantangan lingkungan hidup.

Tantangan berikutnya adalah memastikan gagasan yang dibahas dalam dialog publik dapat ditindaklanjuti melalui langkah nyata, kerja sama lintas sektor, dan keterlibatan masyarakat secara berkelanjutan.

Baca Juga:

Larat Bersiap Jadi Pusat Konsolidasi 10.000 Pemuda Katolik Maluku, Panitia Intensif Galang Dukungan Lintas Sektor

Larat Bersiap Jadi Pusat Konsolidasi 10.000 Pemuda Katolik Maluku, Panitia Intensif Galang Dukungan Lintas Sektor

Dengan demikian, gerakan Kalesang Alam Tanimbar tidak hanya menjadi ajakan untuk menanam pohon, tetapi juga mendorong tumbuhnya tanggung jawab bersama dalam menjaga sumber daya alam agar tetap lestari dan memberikan manfaat bagi generasi sekarang maupun mendatang. (*)