LKLM, PK, dan ISKA Gelar Dialog Publik Kalesang Alam Tanimbar! Tiga Pemateri Dihadirkan

Dialog ini soroti pengelolaan SDA berkelanjutan, perlindungan masyarakat adat, serta kesiapan tenaga kerja lokal menghadapi investasi Blok Masela

SAUMLAKI, FordataNews.com — Lembaga Kalesang Lingkungan Maluku (LKLM) bersama Pengurus Pemuda Katolik Komcab Kabupaten Kepulauan Tanimbar dan Ikatan Sarjana Katolik (ISKA) Tanimbar menggelar dialog publik bertajuk “Kalesang Alam Tanimbar: Pengelolaan Sumber Daya Alam Berkelanjutan Berbasis Masyarakat Adat untuk Ekologi yang Lestari dan Kesejahteraan Masyarakat.“

Diskusi publik tersebut digelar di Aula Kantor Kementerian Agama Kabupaten Kepulauan Tanimbar, Sabtu (10/10/2026).

Dialog publik ini menjadi ruang diskusi untuk membangun kesadaran bersama mengenai pentingnya menjaga kelestarian lingkungan, melindungi hak masyarakat adat, dan memastikan pemanfaatan sumber daya alam (SDA) berikan manfaat nyata bagi masyarakat lokal.

Kegiatan ini juga merupakan bagian dari rangkaian persiapan menyongsong Apel Akbar 10 Ribu Kader Pemuda Katolik di Tanimbar yang akan berlangsung pada November 2026 mendatang.

Forum diskusi ini menyoroti pentingnya menempatkan masyarakat adat sebagai bagian utama dalam pengelolaan SDA. Tanah, hutan, laut, pesisir, dan sumber air tidak hanya bernilai ekonomi, tapi juga menjadi warisan leluhur dan sumber penghidupan masyarakat yang harus dijaga keberlanjutannya.

Pesan utama yang digaungkan dalam dialog ini ialah bahwa pembangunan ekonomi harus berjalan seiring dengan perlindungan lingkungan, penghormatan terhadap nilai-nilai adat, dan peningkatan kesejahteraan masyarakat.

DLH Paparkan Strategi Pengelolaan SDA Berkelanjutan

Kepala Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Kepulauan Tanimbar, Ir. Mesala Hutabarat, MM., menjadi pemateri pertama dengan membahas urgensi perlindungan dan pengelolaan lingkungan hidup di tengah meningkatnya tekanan terhadap SDA.

Dalam paparannya, ia menyoroti dampak eksploitasi SDA yang tidak memperhatikan daya dukung lingkungan, seperti degradasi lahan, perubahan iklim, dan hilangnya keanekaragaman hayati.

Ia juga memaparkan UU Nomor 32 Tahun 2009 tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup sebagai salah satu landasan hukum untuk memastikan kegiatan pembangunan memperhatikan aspek kelestarian lingkungan.

Penyusunan dokumen lingkungan sesuai ketentuan, pengawasan terhadap kegiatan usaha, serta penegakan hukum terhadap pelanggaran lingkungan merupakan bagian penting dari upaya mencegah kerusakan ekosistem.

“Dalam konteks Tanimbar, pengelolaan SDA berkelanjutan diarahkan pada empat sektor utama, yakni kehutanan dan agroforestri berbasis komunitas, pengelolaan sumber daya air, optimalisasi pertanian dan ketahanan pangan, serta pengembangan sektor kelautan, pariwisata, dan ekonomi kreatif,“ ujar Mesala dalam materinya.

Dikatakan, pengelolaan hutan berbasis masyarakat, misalnya, tidak hanya berfungsi menjaga tanah, air, dan keanekaragaman hayati, tetapi juga membuka peluang peningkatan pendapatan masyarakat melalui pemanfaatan SDA secara bertanggung jawab.

Sementara itu, perlindungan daerah aliran sungai, penyediaan air bersih, diversifikasi pangan lokal, konservasi mangrove dan terumbu karang, serta penerapan kearifan lokal seperti Sasi menjadi bagian penting dalam menjaga keseimbangan ekologi dan ekonomi masyarakat.

Ia mengarahkan agar kolaborasi pemerintah, sektor swasta, masyarakat, dan akademisi diperlukan agar kebijakan pembangunan tidak mengabaikan kepentingan lingkungan maupun masyarakat yang menggantungkan hidupnya pada SDA.

RPJMD dan Arah Pembangunan Daerah

Pemateri kedua, Sekretaris Baperindag Kabupaten Kepulauan Tanimbar, Zakarias Lamere, S.Sos., M.Si., membahas visi dan misi pembangunan daerah dalam RPJMD lima tahun ke depan.

Materi tersebut berkaitan dengan pentingnya menyelaraskan arah pembangunan daerah dengan kebutuhan peningkatan kesejahteraan masyarakat dan pengelolaan SDA secara berkelanjutan.

“Pemda punya peran strategis dalam membangun sinergi antara pertumbuhan ekonomi, peningkatan kualitas SDM, pengembangan usaha lokal, dan perlindungan lingkungan,“ ujarnya.

Perencanaan pembangunan yang terintegrasi diharapkan dapat memastikan bahwa peluang ekonomi dari investasi dan pemanfaatan SDA memberikan manfaat bagi masyarakat luas.

Dalam pelaksanaannya, koordinasi antara pemerintah, dunia usaha, lembaga pendidikan, organisasi masyarakat, dan komunitas adat menjadi salah satu faktor penting untuk mencapai tujuan tersebut.

SDM Lokal Harus Disiapkan

Persoalan kesiapan tenaga kerja lokal menghadapi pembangunan Proyek Strategis Nasional Lapangan Gas Abadi Blok Masela turut menjadi perhatian dalam dialog ini.

Sekretaris Forum Lembaga Pelatihan Industri Maluku, Mathias Neys Watunglawar, S.H., M.H., sebagai pemateri ketiga, membahas pentingnya mempersiapkan SDM Tanimbar agar mampu bersaing dan mengambil bagian dalam perkembangan industri.

Dengan nilai investasi yang diperkirakan mencapai US$20,9 miliar, proyek Blok Masela diproyeksikan membutuhkan lebih dari 12 ribu pekerja pada puncak konstruksi dan sekitar 850 pekerja pada fase operasi.

“Peluang kerja yang tersedia mencakup sektor konstruksi, pengelasan, kelistrikan, pengoperasian alat berat, transportasi, logistik, keamanan, hingga teknisi dan operator kilang gas,“ papar Watunglawar.

Namun, peluang itu menurutnya membutuhkan kesiapan tenaga kerja terampil, berkompeten, dan miliki sertifikasi sesuai standar industri.

Karena itu, penguatan pendidikan vokasi, peningkatan kapasitas BLK, pengembangan SMK, serta penyelenggaraan pelatihan yang sesuai kebutuhan industri jadi langkah penting meningkatkan daya saing tenaga kerja lokal.

Perusahaan dan kontraktor juga diharapkan memberikan kejelasan mengenai kebutuhan tenaga kerja lokal, membuka kesempatan pelatihan dan magang bersertifikat, serta menyampaikan informasi mengenai realisasi penyerapan tenaga kerja.

“Masyarakat perlu memanfaatkan peluang dengan tingkatkan keterampilan dan ikuti sertifikasi kompetensi. Pelaku UMKM juga perlu didorong agar dapat terlibat dalam penyediaan barang dan jasa untuk memenuhi kebutuhan proyek.

Dengan persiapan yang matang, masyarakat Tanimbar diharapkan tidak hanya jadi penonton, tapi juga mampu mengambil peran sebagai tenaga kerja terampil, pelaku usaha, dan bagian penting dari pertumbuhan ekonomi daerah.

Pembangunan Industri Harus Perhatikan Lingkungan dan Hak Adat

Watunglawar paparkan, di tengah peluang ekonomi yang ditawarkan Blok Masela, perlindungan lingkungan dan hak masyarakat adat tetap menjadi aspek penting yang harus diperhatikan.

Dikatakan bahwa pesisir, laut, mangrove, terumbu karang, hutan, dan SDA lainnya merupakan bagian dari ruang hidup masyarakat Tanimbar yang menopang kehidupan sosial, ekonomi, dan budaya.

“Karena itu, pembangunan industri harus memperhatikan pengelolaan limbah, pencegahan pencemaran, keselamatan kerja, serta perlindungan masyarakat yang terdampak penggunaan lahan,“ ingatnya.

Keterlibatan masyarakat adat dalam proses pembangunan juga diperlukan agar kebijakan yang diambil mempertimbangkan kondisi sosial, nilai budaya, dan keberlanjutan sumber penghidupan masyarakat setempat.

Investasi berskala besar tidak cukup hanya diukur dari nilai modal yang ditanamkan atau jumlah lapangan kerja yang dibuka. Manfaat pembangunan juga perlu dilihat dari sejauh mana masyarakat lokal memperoleh kesempatan yang adil, lingkungan tetap terjaga, dan hak-hak masyarakat dihormati.

“Dengan demikian, pertumbuhan ekonomi dan perlindungan ekologi perlu ditempatkan sebagai dua kepentingan yang saling mendukung, bukan dipertentangkan,“ ujarnya.

Kalesang Alam Butuhkan Komitmen

Dialog publik Kalesang Alam Tanimbar menjadi bagian dari upaya membangun kesadaran bahwa menjaga lingkungan bukan sekedar kegiatan seremonial, melainkan tanggung jawab bersama untuk mempertahankan sumber penghidupan dan warisan leluhur.

Pemerintah diharapkan memperkuat regulasi dan pengawasan lingkungan. Perusahaan perlu menjalankan kegiatan usaha dengan memperhatikan ketentuan yang berlaku, sedangkan masyarakat adat harus mendapatkan ruang partisipasi dalam pengambilan keputusan yang berkaitan dengan wilayah dan sumber penghidupannya.

Di sisi lain, generasi muda memiliki peran penting dalam mendorong kesadaran ekologis sekaligus mengawal pembangunan agar manfaatnya dapat dirasakan masyarakat Tanimbar secara berkelanjutan.

Melalui dialog tersebut, pengelolaan SDA berbasis masyarakat adat diharapkan jadi bagian penting dari arah pembangunan Tanimbar, termasuk dalam menghadapi perkembangan industri Blok Masela.

Baca Juga:

Kalesang Alam Tanimbar Dimulai, 100 Pohon Ditanam di Bomaki untuk Masa Depan Sumber Air

Kalesang Alam Tanimbar Dimulai, 100 Pohon Ditanam di Bomaki untuk Masa Depan Sumber Air

Sebab, masa depan Tanimbar tidak hanya ditentukan oleh besarnya investasi yang masuk, tetapi juga oleh kemampuan seluruh pihak menjaga kelestarian alam, menghormati warisan leluhur, dan memastikan masyarakat lokal memperoleh manfaat nyata dari pembangunan. (*)