Ambon  

ISKA Ambon dan MAFINDO Dorong Literasi Digital, AI Harus Dimanfaatkan Secara Positif

AMBON, FordataNews.com — Perkembangan Artificial Intelligence (AI) atau kecerdasan buatan tidak lagi sekadar menjadi isu teknologi masa depan.

AI telah masuk ke berbagai sektor kehidupan dan mulai memengaruhi cara pemerintah bekerja, masyarakat memperoleh informasi, hingga bagaimana sebuah konten diproduksi dan disebarluaskan.

Di tengah perkembangan tersebut, Ikatan Sarjana Katolik (ISKA) Kota Ambon bersama Masyarakat Anti Fitnah Indonesia (MAFINDO) mendorong pentingnya kolaborasi untuk memperkuat literasi digital masyarakat agar AI dapat dimanfaatkan secara positif, produktif, dan bertanggung jawab.

Gagasan itu mengemuka dalam diskusi antara Ketua ISKA Kota Ambon Matias Neis Watunglawar, S.H., M.H., dengan Ketua Umum MAFINDO Mark Maryadat Ufie, S.T., M.Sc., di Kota Ambon, Sabtu (12/9/2026).

Diskusi tersebut menjadi ruang bertukar pandangan mengenai perkembangan teknologi, pemanfaatan AI dalam pemerintahan, sekaligus tantangan yang muncul akibat derasnya arus informasi di ruang digital.

Mark menilai kemampuan memahami perkembangan teknologi dan membaca pola algoritma menjadi semakin penting bagi masyarakat maupun pemerintah.

Menurutnya, teknologi AI memiliki potensi besar untuk mendukung efektivitas kerja pemerintahan. Bahkan, pemanfaatan agentic AI dalam dunia pemerintahan dinilai menjadi salah satu perkembangan yang penting untuk mulai diadaptasi dengan tetap memperhatikan prinsip tata kelola pemerintahan yang baik atau good governance.

Namun, kemajuan teknologi tersebut juga membawa tantangan. Produksi informasi kini dapat dilakukan secara cepat dan instan melalui konten berbasis AI.

Jika tidak dibarengi kemampuan literasi digital yang memadai, perkembangan tersebut berpotensi menciptakan ruang informasi yang sulit membedakan antara fakta, opini, manipulasi, dan hoaks.

Karena itu, menurut Mark, masyarakat harus memiliki kemampuan untuk memeriksa informasi sebelum mempercayai maupun menyebarkannya.

AI harus ditempatkan sebagai alat untuk memperkuat kapasitas manusia, bukan menggantikan sikap kritis manusia.

Dalam konteks pemerintahan, AI dapat dimanfaatkan untuk mendukung efektivitas pelayanan dan pekerjaan birokrasi. Sementara bagi masyarakat, teknologi tersebut dapat menjadi sarana pembelajaran, pengembangan kreativitas, peningkatan produktivitas, hingga membuka berbagai peluang baru.

Pada kesempatan tersebut, Mark juga menyampaikan bahwa MAFINDO baru membuka ruang kolaborasi dengan Kementerian Ketenagakerjaan, khususnya Direktorat Penempatan Tenaga Kerja Khusus Bidang Lansia.

Kolaborasi tersebut berkaitan dengan pengembangan Akademi Digital Lansia, yang diarahkan untuk mendukung peningkatan kapasitas lansia produktif agar mampu beradaptasi dengan perkembangan teknologi digital.

MAFINDO sendiri telah berkembang di 45 wilayah di Indonesia, dari Aceh hingga Papua. Organisasi masyarakat tersebut selama ini memberikan perhatian pada upaya memerangi hoaks di ruang digital sekaligus memperkuat literasi digital yang inklusif.

Berbagai buku, modul ajar, dan hasil penelitian juga telah dihasilkan MAFINDO melalui MAFINDO Institute sebagai bagian dari kontribusi terhadap peningkatan pemahaman masyarakat mengenai ruang digital.

Sementara itu, Watunglawar yang merupakan Ketua ISKA Kota Ambon, menilai penguatan literasi digital membutuhkan keterlibatan aktif dari berbagai elemen masyarakat.

Menurutnya, perkembangan teknologi informasi yang begitu cepat harus diimbangi dengan kemampuan masyarakat dalam memahami, memilah, memverifikasi, serta menggunakan informasi secara bijak.

Watunglawar, yang baru saja dilantik sebagai Sekretaris Dinas Tenaga Kerja Kota Ambon ini katakan, literasi digital tidak lagi dapat dipandang sebatas kemampuan menggunakan perangkat teknologi atau mengakses media sosial.

Lebih dari itu, literasi digital menyangkut kemampuan berpikir kritis dalam menghadapi banjir informasi, termasuk mengenali informasi yang benar, membedakan fakta dan opini, serta menghindari penyebaran berita bohong dan informasi yang menyesatkan.

“Di tengah arus informasi yang begitu cepat, masyarakat tidak cukup hanya mampu menggunakan teknologi. Yang lebih penting, bagaimana teknologi dan informasi itu dimanfaatkan secara positif, produktif, dan bertanggung jawab,” ujar Watunglawar.

Diskusi tersebut juga turut melibatkan Wakil Ketua ISKA Kota Ambon Costanius Kolatfeka, yang menekankan pentingnya menghadirkan informasi berkualitas di tengah berbagai dinamika yang berkembang di Maluku.

Menurut Costanius, masyarakat membutuhkan informasi yang bukan hanya cepat, tetapi juga bijak, edukatif, dan mampu memberikan perspektif konstruktif.

Ia berharap kalangan cendekiawan, organisasi masyarakat, serta berbagai elemen lainnya dapat terus memberikan kontribusi pemikiran yang positif dan edukatif sehingga dapat mendukung berbagai program pemerintah untuk kepentingan masyarakat.

Kolaborasi ISKA Ambon dan MAFINDO pada akhirnya menempatkan literasi digital sebagai kebutuhan bersama.

Sebab, semakin mudah teknologi menghasilkan informasi, semakin besar pula tuntutan terhadap manusia untuk berpikir kritis, memeriksa fakta, menjaga etika, dan bertanggung jawab atas setiap informasi yang diproduksi maupun disebarkan.

Baca Juga:

ISKA Desak Pempus Prioritaskan Pemkot Ambon Top-Up TKD, Kinerja Daerah Dinilai Layak Dihargai

ISKA Desak Pempus Prioritaskan Pemkot Ambon Top-Up TKD, Kinerja Daerah Dinilai Layak Dihargai

Di era AI, kecanggihan teknologi bukan satu-satunya ukuran kemajuan. Kemampuan manusia menggunakan teknologi secara bijak dan positif justru menjadi kunci agar transformasi digital benar-benar memberikan manfaat bagi masyarakat. (*)