SAUMLAKI, FordataNews.com – Festival Budaya Teluk Saumlaki bukan sekedar rangkaian perayaan untuk memeriahkan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-27 Kabupaten Kepulauan Tanimbar tahun 2026 ini.
Lebih dari itu, festival tersebut menjadi momentum untuk menghidupkan kembali warisan budaya dan kearifan lokal Tanimbar yang mulai tergerus modernisasi sekaligus membuka peluang agar kekayaan budaya daerah itu dikenal hingga dunia internasional.
Hal tersebut disampaikan Wakil Bupati Kepulauan Tanimbar, dr. Juliana Chatarina Ratuanak, usai puncak Festival Budaya Teluk Saumlaki yang digelar di Taman Kota Saumlaki, Minggu (4/10/2026) malam.
Menurut Juliana, budaya dan kearifan lokal harus menjadi kekuatan penting dalam membangun Tanimbar ke depan. Karena itu, berbagai tradisi yang diwariskan leluhur perlu kembali dihidupkan dan diperkenalkan kepada generasi muda.
“Yang ingin ditampilkan dan ditonjolkan adalah warisan budaya dan kearifan lokal untuk kemajuan Tanimbar ke depannya,” ujar Juliana.
Ia mengatakan, sejak tahun sebelumnya pemerintah bersama berbagai elemen masyarakat terus mencari bentuk yang tepat untuk mengangkat identitas budaya Tanimbar. Salah satunya melalui potensi Teluk Saumlaki, tradisi penjemputan di laut serta perahu-perahu khas yang diwariskan leluhur.
“Kita punya teluk yang indah, kita punya penjemputan di laut, kita punya perahu-perahu khas yang diwariskan dari leluhur. Itu yang mau dihidupkan kembali,” katanya.
Menurutnya, gagasan tersebut kemudian diwujudkan melalui parade laut serta berbagai perlombaan budaya yang melibatkan peserta dari sembilan kecamatan di Kabupaten Kepulauan Tanimbar.
Ia mengungkapkan, kegiatan tersebut telah dikonsultasikan sejak awal bersama Bupati Kepulauan Tanimbar, Barisan Pemuda Nusantara (Bapera) Tanimbar dan Sanggar Titi Songa Olilit Pusat Junior (OPJ). Dukungan berbagai pihak kemudian membuat rangkaian kegiatan budaya tersebut dapat terlaksana.
Budaya Menjadi Perekat Persaudaraan
Lebih jauh, Juliana menilai festival budaya juga memiliki makna sosial yang penting bagi Tanimbar. Di tengah situasi daerah yang dinilainya sedang menghadapi berbagai tantangan, budaya dapat menjadi ruang untuk memperkuat persaudaraan dan persatuan.

“Maknanya adalah semakin menjalin persaudaraan dan persatuan untuk membangun daerah ini dalam situasi dan kondisi yang kita tahu selama ini sedang tidak begitu baik,” ungkapnya.
Ia menegaskan, modernisasi tidak boleh membuat masyarakat kehilangan jati dirinya. Justru di tengah perkembangan zaman, budaya lokal harus tetap dipertahankan sebagai identitas sekaligus pedoman kehidupan bersama.
“Bagaimana kita mempertahankan budaya kearifan lokal yang tulus dan murni itu sehingga kita bisa sama-sama saling mengerti dan saling mendukung serta bahu-membahu membangun Tanimbar semakin baik dan maju ke depannya,” ujarnya.
Salah satu kekayaan budaya yang kembali ditampilkan dalam festival tersebut adalah berbalas pantun dan Foruk melalui lomba Gambus. Menurut Juliana, tradisi tersebut bukan sekedar hiburan, tetapi mengandung petuah kehidupan yang sangat dalam.
Ia menilai, pemahaman terhadap makna bahasa dan petuah yang terkandung dalam pantun maupun Foruk dapat membentuk sikap saling menghargai dalam kehidupan sehari-hari.
“Kalau kita pahami benar apa yang disampaikan melalui lomba Gambus sambil bernyanyi berbalas pantun dan Foruk, maka dalam kehidupan sehari-hari kita akan sadar dan saling menghargai satu dengan yang lain sehingga hidup ini semakin baik dan harmonis,” katanya.
Sebagai bagian dari salah satu juri yang turut memberikan penilaian kepada para peserta lomba dalam festival tersebut, ia mengakui masih terdapat kekurangan dalam sejumlah penampilan peserta. Namun, hal tersebut dinilainya sebagai bagian dari proses menghidupkan kembali tradisi yang nyaris terlupakan.
“Hal ini perlu dilatih terus dan digali kembali karena hampir terkubur,” tegasnya.
Dari Tanimbar Menuju Panggung Internasional
Kehadiran Duta Besar Republik Indonesia untuk Republik Rakyat Tiongkok dan Mongolia, Djauhari Oratmangun, dalam puncak Festival Budaya Teluk Saumlaki juga menjadi perhatian tersendiri.
Juliana menyebut Dubes Djauhari Oratmangun telah berperan memperkenalkan budaya dan kearifan lokal Tanimbar hingga ke negeri Tirai Bambu.

Selain itu, menurutnya, ada pula Noah Fanoembi yang merupakan pemuda asal Belanda keturunan Tanimbar yang dikenal sebagai Duta atau Ambassadeur Kepulauan Tanimbar di Belanda yang ikut membawa budaya daerah tersebut ke Belanda, bahkan mendatangkan duta dari Belanda ke Tanimbar serta mengundang orang Tanimbar untuk tampil di negeri tersebut.
“Dari beberapa terobosan itu, sebenarnya Tanimbar memiliki potensi dan peluang besar untuk semakin memperkenalkan seni budaya dan kearifan lokal ke dunia internasional,” katanya.
Juliana menilai, Tanimbar kini mulai menemukan bentuk yang dapat dikembangkan sebagai kekuatan budaya daerah.
“Saat ini kami sudah ketemu bentuknya, tinggal melakukan pengembangan dan peningkatan. Entah itu dalam jumlah dan dalam makna. Karena itu kita harus kerja keras,” ujarnya.
Swadaya Tanpa APBD
Hal lain yang cukup menarik perhatian adalah pelaksanaan kegiatan budaya tersebut disebut Juliana dilakukan melalui swadaya dan tanpa menggunakan APBD.
Ia mengatakan, semangat yang dibangun bukan sekadar menggelar pertunjukan, tetapi mencari cara kreatif untuk mendatangkan sumber daya dari luar daerah guna membantu menyelesaikan berbagai persoalan pembangunan.
“Upaya penyelenggaraan kegiatan untuk memeriahkan HUT Kabupaten Kepulauan Tanimbar kali ini merupakan hasil swadaya dan bahkan tidak menggunakan APBD,” katanya.
Menurut Juliana, kreativitas harus menjadi modal penting dalam menghadapi keterbatasan.
“Saya berprinsip dan percaya bahwa orang kreatif itu punya seribu satu cara untuk mencari jalan keluar,” tegasnya.
Ia menyebut, pertunjukan budaya tanpa menggunakan anggaran daerah bahkan telah dilakukan sebanyak tiga kali, yakni di Desa Sangliat, Gedung Natar Kaumpu, dan puncak Festival Budaya Teluk Saumlaki saat ini.
Wermaktian Raih Juara Umum
Dalam puncak Festival Budaya Teluk Saumlaki, panitia juga mengumumkan para pemenang berbagai mata lomba yang diikuti peserta dari sembilan kecamatan dan dari beberapa sekolah di Tanimbar.
Pada Lomba Parade Laut, Juara I diraih Kecamatan Wermaktian, Juara II Kecamatan Tanimbar Utara, dan Juara III Kecamatan Tanimbar Selatan.
Pada Lomba Tarian Dodobol, Juara I diraih Kecamatan Kormomolin, Juara II Kecamatan Selaru, dan Juara III Kecamatan Fordata.
Sementara Lomba Gambus Berbalas Berpantun dan Foruk, Juara I diraih SMP Seminari Tanimbar Selatan, Juara II SMP Negeri 1 Tanimbar Selatan, dan Juara III SMP Negeri 2 Tanimbar Selatan.
Untuk Lomba Tarian Tnabar Ilaa, Juara I diraih Kecamatan Nirunmas, Juara II Kecamatan Wermaktian, dan Juara III Kecamatan Tanimbar Utara.
Sedangkan predikat Juara Umum Festival Budaya Teluk Saumlaki diraih Kecamatan Wermaktian.
Puncak kegiatan kemudian berlangsung semakin meriah ketika seluruh peserta lomba bersama-sama menyanyikan lagu daerah Tanimbar berjudul “Amar Lolin” yang dibawakan Dharma Oratmangun.
Baca Juga:
Jelang HUT Kabupaten Kepulauan Tanimbar ke-27, KORMI Semarakkan dengan Permainan Tradisional
Jelang HUT Kabupaten Kepulauan Tanimbar ke-27, KORMI Semarakkan dengan Permainan Tradisional
Puncak Festival Budaya Teluk Saumlaki tersebut turut dihadiri Bupati dan Wakil Bupati Kepulauan Tanimbar, Dubes RI untuk Republik Rakyat Tiongkok dan Mongolia Djauhari Oratmangun, Dharma Oratmangun, Sekda Kepulauan Tanimbar Brampi Moriolkosu, S.H., Ketua DPRD Kabupaten Kepulauan Tanimbar Anggito Laurens, Kapolres Kepulauan Tanimbar AKBP Ayani, S.P., S.I.K., M.H., para camat dari sembilan kecamatan, serta sejumlah tamu undangan lainnya. (*)







