100 Meter Merah Putih Membelah Kota Saumlaki, SD Inpres Sifnana Kirim Pesan Nasionalisme

SAUMLAKI, FordataNews.com – Semangat nasionalisme menyambut Hari Ulang Tahun (HUT) ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia ditunjukkan secara unik dan penuh makna oleh keluarga besar SD Inpres Sifnana, Kabupaten Kepulauan Tanimbar (KKT).

Para guru, siswa, dan orang tua siswa mengarak dan membentangkan Bendera Merah Putih sepanjang 100 meter dengan lebar 3,5 meter menyusuri sejumlah ruas jalan utama Kota Saumlaki, Sabtu (15/8/2026).

Kegiatan bertajuk “Gebyar Merah Putih” tersebut bukan sekadar seremoni menyambut hari kemerdekaan. Di balik bentangan kain merah putih sepanjang 100 meter itu, tersimpan pesan kuat tentang kecintaan terhadap Tanah Air sekaligus upaya menanamkan nilai nasionalisme kepada generasi muda.

Kepala SD Inpres Sifnana, Carolina Kudmas, S.Pd., mengatakan kegiatan tersebut telah dirancang sejak akhir Juni 2026 dan bukan kegiatan yang muncul secara spontan.

Menurut Carolina, gagasan tersebut terinspirasi dari fenomena antusiasme masyarakat Indonesia terhadap Piala Dunia.

Saat itu, kata dia, banyak masyarakat begitu bangga mendukung tim nasional dari negara lain hingga rela membentangkan dan mengibarkan bendera negara lain di berbagai tempat di Indonesia.

“Dari situ saya bersama dewan guru terinspirasi. Timbul semangat nasionalisme, bagaimana sebagai warga negara kita harus mencintai negara dan tanah air kita sendiri,” ujar Carolina.

Semangat itulah yang kemudian diwujudkan melalui Gebyar Merah Putih dengan membentangkan bendera raksasa sepanjang 100 meter sebagai bagian dari rangkaian menyongsong HUT Kemerdekaan RI.

DIJAHIT MANUAL, DIRAJUT BERSAMA

Ada cerita menarik di balik terciptanya bendera sepanjang 100 meter tersebut.

Dua carik kain berwarna merah dan putih dengan panjang masing-masing 100 meter disatukan secara manual menggunakan jarum dan benang.

Proses penyatuan kain tersebut dilakukan langsung oleh Kepala Sekolah bersama para guru dan siswa SD Inpres Sifnana. Bahkan, proses tersebut dilakukan tanpa menggunakan mesin jahit.

Kain merah dan putih itu dirajut bersama di sela-sela kegiatan Pramuka. Setelah proses penyatuan selesai, kegiatan dilanjutkan dengan api unggun di lingkungan sekolah.

“Kita semua merajut dua kain, merah yang melambangkan keberanian dan putih yang melambangkan kesucian dan kemurnian menjadi satu secara manual. Tidak menggunakan mesin jahit,” jelasnya.

Bagi Carolina, proses tersebut bukan sekadar menjahit kain menjadi sebuah bendera. Lebih dari itu, kegiatan tersebut menjadi sarana pendidikan karakter bagi siswa untuk memahami bahwa kecintaan terhadap Indonesia harus diwujudkan melalui kebersamaan, kerja keras, gotong royong dan penghormatan terhadap simbol negara.

ORANG TUA TURUT TERLIBAT

Gebyar Merah Putih semakin semarak karena tidak hanya melibatkan guru dan siswa. Para orang tua siswa juga turut mengambil bagian dalam kegiatan tersebut.

Keterlibatan orang tua, menurut Carolina, menjadi bagian penting dalam keberhasilan berbagai program sekolah.

Karena itu, pihak sekolah menyampaikan apresiasi dan terima kasih kepada seluruh orang tua siswa yang selama ini memberikan dukungan terhadap program-program pendidikan di SD Inpres Sifnana.

“Kami mengucapkan terima kasih kepada seluruh orang tua hebat yang selalu memberikan dukungan bagi seluruh program sekolah yang kami buat,” katanya.

DIARAK MENYUSURI JALUR UTAMA KOTA

Bendera Merah Putih sepanjang 100 meter tersebut kemudian diarak dari titik start di kawasan Taman Kota, Jalan Poros Kota Saumlaki.

Dari lokasi tersebut, rombongan bergerak menuju ujung Jalan Poros, kemudian berbelok menuju Gedung Natar Kaumpu dan melintasi kawasan pertokoan Saumlaki hingga akhirnya tiba di SD Inpres Sifnana sebagai titik finish.

Arak-arakan berlangsung dengan pengawalan langsung dari Satuan Lalu Lintas Polres Kepulauan Tanimbar yang mengatur arus kendaraan di sepanjang rute kegiatan hingga seluruh rangkaian Gebyar Merah Putih selesai.

Kehadiran aparat kepolisian turut memastikan kegiatan berlangsung tertib dan tidak mengganggu kelancaran lalu lintas masyarakat.

BUKAN PERSAINGAN, BIDIK REKOR MURI

Carolina Kudmas menegaskan, kegiatan tersebut sama sekali tidak dimaksudkan untuk bersaing dengan sekolah maupun pihak lain.

Sebaliknya, SD Inpres Sifnana ingin menghadirkan sebuah kegiatan yang memiliki nilai edukasi, kebangsaan dan kebersamaan, sekaligus membuka peluang untuk mencatatkan prestasi di tingkat nasional.

“Kegiatan ini tidak bertujuan untuk bersaing dengan sekolah ataupun pihak lainnya. Kami merencanakan untuk mencoba memecahkan rekor MURI dengan membentangkan Bendera Merah Putih sepanjang 100 meter,” ungkapnya.

Ia berharap semangat yang dibangun melalui kegiatan tersebut tidak berhenti pada momentum peringatan kemerdekaan, tetapi terus tumbuh dalam kehidupan sehari-hari para siswa.

Menurutnya, kemerdekaan harus dimaknai dengan menjaga persatuan, menghargai perjuangan para pahlawan serta menumbuhkan kecintaan terhadap bangsa dan negara sejak usia sekolah.

“Hanya satu kata, NKRI Harga Mati. Kami mencintai negara kami Indonesia, menghargai jasa para pahlawan kami, dan menjunjung tinggi bendera kami, Bendera Merah Putih sebagai simbol negara ini,” tegas Carolina.

MERAH PUTIH MENYATUKAN SEKOLAH DAN KELUARGA

Lebih jauh, Carolina berharap Gebyar Merah Putih dapat menjadi momentum memperkuat kebersamaan antara sekolah, guru, siswa dan orang tua.

Sebab, menurutnya, keberhasilan pendidikan tidak hanya menjadi tanggung jawab sekolah, tetapi membutuhkan dukungan seluruh keluarga besar sekolah.

“Harapan saya melalui kegiatan ini, kita semua dapat memupuk rasa kebersamaan, persatuan dan kesatuan antara orang tua siswa, para guru dan seluruh siswa-siswi. Sebab tanpa dukungan para orang tua, program sekolah tentunya tidak akan berjalan secara maksimal,” pungkasnya.

Bentangan Merah Putih sepanjang 100 meter yang menyusuri jalanan Kota Saumlaki itu akhirnya bukan hanya menjadi pemandangan yang menarik perhatian warga.

Baca Juga:

Taklukan Es Negeri Tirai Bambu, Ekspedisi Merah Putih Cetak Sejarah di Gunung Siguniang

Taklukkan Es Negeri Tirai Bambu, Ekspedisi Merah Putih Cetak Sejarah di Gunung Siguniang

Kegiatan tersebut menjadisimbol bahwa nasionalisme dapat ditanamkan melalui tindakan sederhana, yakni merajut, menjahit, berjalan bersama dan mengibarkan satu warna kebanggaan, Merah Putih. (*)