Dari Rahim Kehidupan untuk Masa Depan Tanimbar, WKRI Tanimbar-MBD Rayakan 102 Tahun Pengabdian Santa Anna

Harapan bagi masa depan Tanimbar akan terus menyala dari rahim kehidupan yang dirawat dengan cinta, kerja keras, dan iman.

SAUMLAKI, FordataNews.com – Denting lonceng gereja mengawali langkah ratusan perempuan Katolik yang datang dengan satu semangat, yaitu bersyukur sekaligus memperbarui tekad untuk terus menjadi pelayan kehidupan.

Di bawah naungan doa dan perayaan Ekaristi, Wanita Katolik Republik Indonesia (WKRI) Wilayah Tanimbar dan Maluku Barat Daya (MBD) memperingati Hari Ulang Tahun Pelindung Santa Anna ke-102.

Perayaan yang mengusung tema “Melanjutkan Langkah Harapan Merawat Rahim Kehidupan demi Mewujudkan Perempuan Berdaya dan Anak Terlindung” bukan sekadar seremoni tahunan.

Di balik tema tersebut tersimpan sebuah pesan besar bahwa perempuan adalah penjaga awal kehidupan, tempat lahirnya harapan bagi keluarga, Gereja, dan bangsa.

Suasana misa syukur berlangsung khidmat. Ratusan pengurus dan anggota WKRI larut dalam doa, mengenang perjalanan panjang organisasi yang selama lebih dari satu abad telah menjadi wadah pengabdian perempuan Katolik di Indonesia.

Ketua Koordinator WKRI Wilayah Tanimbar dan MBD, Juliana Chatarina Ratuanak, mengajak seluruh kader untuk memaknai peringatan ini sebagai panggilan memperkuat peran perempuan, dimulai dari menjaga lingkungan hingga merawat rahim kehidupan sebagai sumber lahirnya generasi masa depan.

Baginya, perempuan bukan hanya ibu dalam sebuah keluarga, tetapi juga pendidik pertama yang membentuk karakter anak-anak sejak dini.

Dari tangan perempuan yang sehat, tangguh, dan penuh kasih, akan lahir generasi yang tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga memiliki kekuatan mental dan spiritual untuk membangun Gereja serta tanah air.

Namun, menurut Juliana, pengabdian perempuan tidak berhenti di dalam rumah. Ia melihat perempuan Katolik harus mampu berdiri di garis depan dalam membangun kemandirian ekonomi keluarga.

Karena itu, ia mendorong seluruh anggota WKRI di Kabupaten Kepulauan Tanimbar untuk mulai mengembangkan sektor pertanian dan perkebunan.

Menanam sayuran, mengelola kebun, dan memanfaatkan lahan yang ada dinilai bukan sekadar aktivitas ekonomi, melainkan bentuk nyata kepedulian terhadap ketahanan pangan daerah.

Ajakan tersebut menjadi semakin relevan ketika Kabupaten Kepulauan Tanimbar bersiap menyambut berbagai peluang pembangunan, mulai dari Program Makan Bergizi Gratis (MBG) hingga pengoperasian Proyek Strategis Nasional Blok Masela yang diperkirakan akan meningkatkan kebutuhan bahan pangan lokal.

“Bila perempuan mampu menghasilkan pangan dari tanahnya sendiri, maka bukan hanya keluarga yang menjadi kuat, tetapi daerah ini pun akan semakin siap menghadapi perubahan dan peluang ekonomi yang datang,” menjadi semangat yang tersirat dalam pesan yang disampaikan kepada seluruh kader.

Sementara itu, Pastor Paroki Santo Yosep Lorwembun, RD Fery Jamlean, mengingatkan bahwa WKRI merupakan salah satu organisasi perempuan terbesar dalam Gereja Katolik yang memiliki tanggung jawab besar untuk terus menghadirkan nilai-nilai Kristiani di tengah masyarakat.

Menurutnya, iman tidak cukup diwujudkan melalui doa semata, tetapi harus tampak dalam tindakan nyata yang membawa manfaat bagi sesama, memperkuat keluarga, serta ikut membangun kehidupan sosial yang lebih baik.

Memasuki usia ke-102, WKRI Wilayah Tanimbar dan Maluku Barat Daya kembali menegaskan bahwa perempuan adalah fondasi kehidupan.

Ketika perempuan diberdayakan, keluarga menjadi kuat. Ketika keluarga kuat, masyarakat bertumbuh.

Baca Juga:

“Suara Gereja Katolik untuk Indonesia“: Bangkit dengan Nurani dan Solidaritas

“Suara Gereja Katolik untuk Indonesia“: Bangkit dengan Nurani dan Solidaritas

Dan ketika masyarakat bertumbuh, harapan bagi masa depan Tanimbar akan terus menyala dari rahim kehidupan yang dirawat dengan cinta, kerja keras, dan iman. (*)