Ketua APINDO Papua: Blok Masela Siap Bangun Poros Bisnis Pasifik–Arafura

JAKARTA, FordataNews.com – Proyek Strategis Nasional (PSN) Blok Masela dinilai memiliki potensi besar untuk menjadi penggerak lahirnya pusat pertumbuhan ekonomi baru di Indonesia Timur.

Kehadiran proyek migas tersebut diyakini tidak hanya memperkuat ketahanan energi nasional, tetapi juga membuka ruang kolaborasi bisnis yang menghubungkan Maluku, Papua, hingga kawasan Pasifik dan Laut Arafura.

Pandangan tersebut disampaikan Ketua Asosiasi Pengusaha Indonesia (APINDO) Papua, Moses Amukwaman Ratusa Buarlele, di Jakarta, Sabtu (1/8/2026).

Putra asli Kepulauan Tanimbar itu menilai keberhasilan pengembangan Blok Masela akan memberikan efek berantai terhadap berbagai sektor ekonomi sekaligus memperkuat sinergi antar daerah di Indonesia Timur.

“Proyek Strategis Nasional ini kami yakini mampu mendorong kolaborasi investasi yang semakin kuat antara Maluku, Papua, dan wilayah sekitarnya,” ujarnya.

Meski saat ini memimpin APINDO Papua, Moses menegaskan bahwa kemajuan ekonomi Indonesia Timur harus dibangun melalui kerja sama lintas wilayah.

Karena itu, masyarakat Tanimbar diharapkan menjadi pelaku utama dalam pembangunan yang berlangsung di daerahnya sendiri.

“Jangan sampai masyarakat hanya menjadi penonton di atas tanah yang memiliki potensi sumber daya begitu besar,” tegasnya.

Menurut Moses, Blok Masela juga harus menjadi momentum lahirnya generasi baru wirausahawan lokal.

Ia menilai proyek tersebut bukan sekadar investasi di sektor energi, melainkan peluang untuk menciptakan kesejahteraan masyarakat melalui tumbuhnya usaha-usaha baru yang dikelola putra-putri Tanimbar.

Ia memperkirakan dampak ekonomi proyek ini akan dirasakan oleh berbagai sektor, mulai dari perhotelan, transportasi, kuliner, hingga logistik.

Aktivitas ekonomi yang meningkat diyakini mampu mengubah Kepulauan Tanimbar menjadi salah satu pusat pertumbuhan ekonomi baru di Provinsi Maluku, sekaligus memperluas kesempatan kerja bagi masyarakat setempat.

Namun demikian, Moses mengingatkan agar pemerintah daerah tetap memastikan hak-hak masyarakat adat terlindungi selama proses pembangunan berlangsung.

Ia juga mendorong penerapan kebijakan proteksi ekonomi daerah melalui pemberian ruang yang lebih besar bagi tenaga kerja dan pelaku usaha lokal.

Menurutnya, sedikitnya 20 hingga 30 persen kebutuhan tenaga kerja dalam proyek harus berasal dari putra-putri Tanimbar dan Maluku.

Baca Juga:

Siap Berinvestasi di Tanimbar, Buarlele Sowan ke Syahbandar

Siap Berinvestasi di Tanimbar Buarlele Sowan ke Syahbandar

Selain itu, keterlibatan pengusaha lokal sebagai mitra vendor utama dalam rantai pasok barang dan jasa, baik pada tahap konstruksi maupun operasional, dinilai menjadi kunci agar manfaat ekonomi Blok Masela benar-benar dirasakan masyarakat di daerah. (*)