Arca Bunda Maria Berbusana Ambon Berdiri Megah di Air Louw, Uskup Seno Ungkap Jejak Sejarah Portugis

AMBON, FordataNews.com – Sebuah ikon religius yang memadukan iman Katolik dan identitas budaya Maluku kini berdiri megah di Taman Doa Air Louw, Kecamatan Nusaniwe, Kota Ambon.

Arca Bunda Maria berbusana khas Ambon resmi diberkati oleh Uskup Keuskupan Amboina, Mgr. Seno Ngutra, dalam Perayaan Ekaristi Kudus yang berlangsung khidmat di pelataran Taman Doa Air Louw, Sabtu (3/10/2026).

Lebih dari sekedar sebuah karya seni religi, arca tersebut menjadi simbol perjumpaan antara iman Katolik dengan kebudayaan lokal, sekaligus mengingatkan kembali jejak sejarah panjang Kekatolikan di Kota Ambon.

Arca Bunda Maria setinggi sekitar tiga meter itu berdiri di atas alas penyangga setinggi tiga meter. Dengan keseluruhan ketinggian mencapai sekitar enam meter, sosok Bunda Maria tampak dominan di tengah plaza terbuka dan menghadap ke arah pelataran tangga bertingkat.

Namun, daya tarik utama arca tersebut bukan hanya ukurannya. Bunda Maria ditampilkan mengenakan busana khas Ambon, sebuah pilihan artistik yang membawa pesan kuat tentang bagaimana iman Katolik hadir dan berakar dalam konteks budaya masyarakat Maluku.

Dari Ambarawa untuk Air Louw

Arca Bunda Maria tersebut merupakan pesanan khusus dari pengelola Taman Doa Air Louw dan dibuat oleh pematung asal Ambarawa, RA Nugroho Adi Prabowo.

Adi Prabowo dikenal sebagai salah satu dari tiga seniman pematung asal Ambarawa yang menggarap karya-karya patung religius monumental.

Salah satu karya yang turut mengangkat namanya adalah Patung Maria Assumpta yang berdiri di kompleks religi Gua Maria Kerep Ambarawa, Kabupaten Semarang.

Kini, karya Adi Prabowo hadir di Maluku dalam bentuk Bunda Maria yang mengenakan busana khas Ambon. Karya tersebut kemudian menjadi bagian penting dari pengembangan Taman Doa Air Louw yang berada di bawah naungan Keuskupan Amboina.

Kawasan wisata rohani yang berdiri di atas lahan sekitar empat hektar itu dirancang sebagai pusat devosi dan doa. Ke depan, kawasan tersebut juga akan dilengkapi Gereja Santa Maria Berbelas Kasih (Mater Misericordiae), gedung retret, serta sejumlah patung ikonik lainnya.

Uskup Seno Ungkap Jejak Portugis

Dalam homilinya, Mgr. Seno Ngutra menjelaskan alasan Bunda Maria ditampilkan dengan busana khas Ambon.

Menurut Uskup, pilihan tersebut tidak terlepas dari sejarah Kota Ambon dan perjalanan Kekatolikan yang telah berlangsung sejak masa Portugis.

Ia menyebut bahwa dalam catatan sejarah, pada tahun 1576 ketika pembangunan Kota Ambon dimulai dengan peletakan dasar benteng yang kemudian dikenal sebagai Benteng Victoria, Bunda Maria telah dikaitkan dengan perlindungan terhadap kota yang disebut “Kota Manise“ tersebut.

“Dengan berbusana Ambon kita mau menegaskan bahwa Gereja Katolik, terutama Bunda Maria, sangat lekat dengan setiap budaya di mana umat menyembah dan memuji Tuhan serta berdoa dan berdevosi lewat Bunda Maria,” ungkap Mgr. Seno.

Menurutnya, kehadiran Bunda Maria dalam balutan busana lokal menjadi penegasan bahwa iman Katolik tidak terpisah dari kebudayaan masyarakat tempat Gereja hadir dan berkembang.

Ia juga menghubungkan hal tersebut dengan Annuntiatio Domini atau Kabar Sukacita Tuhan, yakni peristiwa ketika Malaikat Gabriel menyampaikan kabar kepada Maria. Dalam kalender liturgi Katolik, peristiwa tersebut diperingati setiap 25 Maret.

“Bunda Maria dalam sejarah kota ini sangat bermakna dan kita betul-betul didedikasikan di bawah perlindungan Bunda Maria, Maria diberi kabar oleh malaikat Tuhan,” jelasnya.

Karena itu, menurut Mgr. Seno, busana Ambon pada arca tersebut bukan sekadar unsur estetika, tetapi menjadi simbol kedekatan Gereja dengan budaya lokal.

Diberkati Bersama Kristus Raja dan Taman Kemartiran

Pemberkatan arca Bunda Maria berbusana Ambon merupakan bagian dari rangkaian kegiatan rohani di Taman Doa Air Louw.

Sebelum pemberkatan arca tersebut, dilakukan pula pemberkatan terhadap arca Kristus Raja dan Taman Kemartiran 12 Rasul Tuhan Yesus.

Rangkaian acara diawali dengan Perayaan Ekaristi Kudus yang dipimpin langsung oleh Mgr. Seno Ngutra di pelataran arca Bunda Maria. Perayaan tersebut dihadiri perwakilan umat dari delapan paroki di Kevikepan Kota Ambon serta umat Katolik yang datang dari luar Provinsi Maluku.

Suasana berlangsung khidmat. Kawasan Air Louw yang berada di kawasan perbukitan dengan panorama alam Kota Ambon juga menghadirkan suasana yang mendukung kegiatan doa dan permenungan, terutama ketika sore hari saat matahari mulai terbenam.

Bukan Hanya untuk Umat Katolik

Di balik pembangunan kawasan tersebut, Mgr. Seno juga menyampaikan pesan tentang keterbukaan.

Menurutnya, meskipun Taman Doa Air Louw merupakan kawasan wisata rohani Katolik, tempat tersebut diharapkan dapat menjadi ruang yang terbuka bagi seluruh umat beragama.

“Apapun agama anda, tetapi ketika anda datang di sini dan merasa kehadiran Tuhan yang anda sembah lewat agama anda, maka inilah tempat yang didedikasikan untuk anda,” tegasnya.

Ia mengatakan masyarakat dari berbagai latar belakang agama dapat datang dan melakukan kegiatan, terutama kegiatan kerohanian, dengan tetap menghormati ruang-ruang yang secara khusus menjadi tempat kudus bagi umat Katolik.

Pesan tersebut menempatkan Air Louw tidak hanya sebagai kawasan devosi Katolik, tetapi juga sebagai ruang perjumpaan dan permenungan di tengah kehidupan masyarakat Kota Ambon yang plural.

31 Oktober, Penutupan Rosario dan 25 Tahun Imamat

Momentum penting berikutnya akan berlangsung pada 31 Oktober 2026 mendatang. Pada tanggal tersebut, umat Katolik dari delapan paroki di Kota Ambon akan berkumpul di Taman Doa Air Louw untuk menutup rangkaian doa bulan Rosario.

Peristiwa tersebut sekaligus menjadi momentum khusus bagi Mgr. Seno Ngutra karena bertepatan dengan perayaan 25 tahun hidup imamatnya. Mgr. Petrus Canisius Mandagi MSC juga dijadwalkan hadir dalam perayaan tersebut.

“Di tempat Wisata Rohani Katolik Air Louw ini, umat Katolik Kota Ambon menutup doa bulan Rosario sekaligus juga merayakan 25 tahun hidup imamat saya, dan Mgr. Petrus Canisius Mandagi MSC akan hadir pada tanggal itu,” ungkap Uskup Seno.

Dengan hadirnya Arca Bunda Maria berbusana Ambon, Taman Doa Air Louw kini memiliki sebuah ikon yang mengandung tiga pesan sekaligus, yakni iman, sejarah, dan budaya.

Sosok Bunda Maria yang mengenakan busana Ambon seakan menjadi pengingat bahwa perjalanan iman Katolik di Maluku tidak berdiri di luar kebudayaan masyarakat setempat, tetapi telah mengalami perjumpaan panjang dengan sejarah dan identitas Ambon.

Baca Juga:

Arca Bunda Maria Berbalut Tenun Ikat, Dibangun di Utara Tanimbar

Arca Bunda Maria Berbalut Tenun Ikat, Dibangun di Utara Tanimbar

Dari jejak Portugis hingga wajah budaya Maluku yang ditampilkan dalam sebuah arca Ibunda, Air Louw kini perlahan tumbuh menjadi salah satu ruang ziarah yang mempertemukan doa, sejarah, seni dan budaya dan berdiri kokoh di pintu masuk Kota Ambon manise itu. (*)