Kalesang Alam Tanimbar Dimulai, 100 Pohon Ditanam di Bomaki untuk Masa Depan Sumber Air

Bupati: Jangan Berhenti di Seremoni

SAUMLAKI, FordataNews.com — Menjaga kelestarian lingkungan dan menjamin keberlanjutan sumber air, menjadi pesan utama dalam gerakan Kalesang Alam Tanimbar yang dimulai melalui penanaman 100 bibit pohon di kawasan sumber air Desa Bomaki, Kecamatan Tanimbar Selatan, Kabupaten Kepulauan Tanimbar, Maluku, Sabtu (10/10/2026).

Gerakan yang melibatkan Lembaga Kalesang Lingkungan Maluku (LKLM), Pemuda Katolik Komisariat Cabang Kepulauan Tanimbar, dan Ikatan Sarjana Katolik (ISKA) Tanimbar ini merupakan bagian dari rangkaian kegiatan menyongsong Apel Akbar 10 Ribu Kader Pemuda Katolik Maluku yang dijadwalkan berlangsung pada November 2026 mendatang.

Lebih dari sekedar aksi penghijauan, kegiatan ini membawa pesan bahwa kekayaan sumber daya alam Tanimbar harus diimbangi dengan kesadaran kolektif untuk melindungi lingkungan, terutama kawasan tangkapan air yang menopang kebutuhan air bersih masyarakat.

Kegiatan dihadiri Staf Ahli Bupati Kepulauan Tanimbar Beni Samangun, perwakilan unsur Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda), perwakilan INPEX Ltd dan SKK Migas, Balai Wilayah Sungai Provinsi Maluku, tokoh agama, tokoh adat, Camat Tanimbar Selatan, Kepala Desa Bomaki, masyarakat, serta mahasiswa.

Kekayaan Alam Tanimbar Harus Diimbangi Kepedulian Lingkungan

Ketua Panitia kegiatan yang juga Ketua LKLM, Costansius Kolatfeka, menegaskan bahwa kolaborasi bersama Pemuda Katolik dan ISKA merupakan bentuk tanggung jawab bersama untuk menjaga kelestarian lingkungan, khususnya kawasan tangkapan air (catchment area).

Menurutnya, perhatian terhadap Tanimbar yang semakin meningkat seiring dengan potensi sumber daya alam, termasuk pengembangan gas abadi Blok Masela, harus disertai kesadaran untuk melindungi lingkungan secara berkelanjutan.

“Tanimbar kini menjadi idola, di mana-mana bicara tentang Tanimbar, bicara tentang sumber gas abadinya. Maka itu kita semua harus miliki kesadaran bersama untuk menjaga lingkungan secara berkelanjutan,” tegas Kolatfeka yang juga aktif di kancah politik lokal Maluku dan pernah menjabat sebagai Ketua Fraksi Gerindra di DPRD Kabupaten Seram Bagian Timur (SBT) ini.

Ia menekankan bahwa gerakan Kalesang Alam Tanimbar tidak boleh berhenti pada kegiatan penanaman pohon. Bibit yang ditanam harus dirawat dan dipelihara agar dapat tumbuh serta memberikan manfaat ekologis bagi masyarakat.

Untuk memastikan keberlanjutan program, pihaknya berencana membentuk kelompok di Desa Bomaki yang akan mendapatkan pembinaan dalam menjaga dan merawat tanaman.

Langkah ini diharapkan menjadikan masyarakat bukan sekadar peserta kegiatan penghijauan, melainkan pelaku utama yang bertanggung jawab terhadap kelestarian lingkungan di wilayahnya.

Bupati Ingatkan: Jangan Berhenti pada Seremoni

Mewakili Bupati Kepulauan Tanimbar, Staf Ahli Bupati, Beni Samangun, memberikan apresiasi atas inisiatif LKLM yang membangun kolaborasi bersama Pemuda Katolik Komcab Tanimbar dan ISKA Tanimbar.

Menurutnya, gerakan tersebut memiliki makna strategis karena menjadi bagian dari rangkaian Apel Akbar 10 Ribu Kader Pemuda Katolik Maluku Tahun 2026.

Ia menilai, kegiatan ini menunjukkan bahwa konsolidasi organisasi kepemudaan tidak cukup hanya dilakukan melalui pertemuan dan agenda seremonial, tetapi harus diwujudkan dalam aksi nyata yang memberikan manfaat bagi masyarakat dan lingkungan.

Beni juga menegaskan bahwa kata “kalesang“ bukan sekadar istilah dalam bahasa Maluku, melainkan filosofi hidup yang mengajarkan manusia untuk merawat dengan kasih sayang, menjaga dengan penuh tanggung jawab, serta memelihara dengan kesadaran.

Dalam konteks Kalesang Alam Tanimbar, tanah, air, hutan, dan seluruh kekayaan alam merupakan titipan Tuhan yang harus dijaga, bukan semata-mata komoditas yang dapat dieksploitasi tanpa batas.

Ia mengingatkan bahwa perubahan iklim, ancaman abrasi pantai, penurunan kualitas tanah, hingga potensi krisis air bersih menjadi tantangan yang harus dihadapi bersama.

Karakteristik Tanimbar sebagai wilayah kepulauan dengan pulau-pulau kecil membuat kelestarian ekosistem menjadi sangat penting. Kerusakan hutan dan hilangnya pepohonan tanpa upaya pemulihan dapat mengurangi daya dukung lingkungan dan membawa dampak jangka panjang bagi kehidupan masyarakat.

Karena itu, penanaman pohon di Bomaki tidak boleh dipandang sebagai kegiatan yang selesai setelah bibit ditanam.

Pemerintah daerah mendorong agar gerakan tersebut menjadi awal dari komitmen jangka panjang untuk menghijaukan Tanimbar, melindungi sumber air, dan memastikan manfaatnya dapat dirasakan oleh generasi mendatang.

Tiga Langkah untuk Menjamin Keberlanjutan

Melalui Staf Ahli, Bupati menyampaikan tiga pesan penting kepada seluruh pihak yang terlibat dalam gerakan Kalesang Alam Tanimbar.

Pertama, panitia penyelenggara diminta memperkuat sinergi dengan pemerintah daerah. LKLM, Pemuda Katolik, dan ISKA diharapkan tidak berhenti pada kegiatan penanaman, tetapi menyusun program pemantauan pasca tanam dan menjadikan kawasan tersebut sebagai laboratorium hijau binaan.

Kedua, pemerintah desa, tokoh adat, dan masyarakat diminta mengambil peran aktif. Dukungan masyarakat diperlukan untuk menjaga tanaman yang telah ditanam sekaligus menyukseskan rencana gerakan penanaman seribu pohon.

Ketiga, instansi terkait diminta melakukan pemantauan dan evaluasi secara berkala. Pendampingan kepada masyarakat mengenai cara merawat pohon yang benar juga diperlukan agar bibit yang ditanam dapat tumbuh dan memberikan manfaat dalam jangka panjang.

Pesan tersebut menegaskan bahwa keberhasilan gerakan penghijauan tidak semata-mata diukur dari jumlah bibit yang ditanam, tetapi juga dari tingkat keberhasilan tanaman bertahan hidup dan berkembang.

Tanpa pemeliharaan, pemantauan, dan pembagian tanggung jawab yang jelas, kegiatan penanaman pohon berisiko berhenti sebagai seremoni tanpa dampak lingkungan yang berkelanjutan.

Gereja Serukan Pertobatan Ekologis

Kepedulian terhadap lingkungan juga mendapat penegasan dari Wakil Uskup Wilayah Kepulauan Tanimbar dan Maluku Barat Daya, RD Ponci Ongirwalu.

Ia mengingatkan bahwa bumi merupakan rumah bersama yang harus dirawat oleh seluruh manusia. Menjaga kelestarian alam bukan hanya tanggung jawab sosial, tetapi juga bagian dari panggilan iman.

“Bumi adalah rumah kita bersama, merawatnya adalah bentuk pertobatan ekologis,” pesan Ongirwalu.

Ia juga mengingatkan pentingnya keselarasan antara perkataan dan tindakan melalui pesan, “Iman tanpa perbuatan adalah mati.” Pesan ini sejalan dengan semangat Kalesang Alam Tanimbar, yakni menerjemahkan kepedulian terhadap ciptaan Tuhan menjadi tindakan nyata yang berdampak bagi kehidupan masyarakat.

Gerakan pelestarian lingkungan membutuhkan keterlibatan lintas sektor, mulai dari lembaga keagamaan, organisasi kepemudaan, pemerintah, dunia usaha, hingga masyarakat yang hidup berdampingan dengan alam.

Perlindungan Sumber Air Harus Berjalan Bersama Pembangunan

Selain gerakan penghijauan, LKLM menjalin kerja sama dengan Direktorat Jenderal Sumber Daya Air, Kementerian Pekerjaan Umum, dengan fokus pada pembangunan jaringan irigasi air tanah dan instalasi air tanah untuk mendukung ketahanan pangan serta penyediaan air baku di berbagai wilayah Maluku.

Tanimbar disebut termasuk dalam empat kabupaten/kota yang masuk dalam program pembangunan jaringan irigasi air tanah di Pulau Yamdena. Program tersebut diharapkan membantu mengatasi tantangan ketersediaan air di wilayah kepulauan.

Upaya pembangunan infrastruktur air ini perlu berjalan beriringan dengan perlindungan kawasan tangkapan air dan pemeliharaan ekosistem.

Ketersediaan infrastruktur saja tidak cukup apabila lingkungan yang menopang sumber air tidak dijaga secara berkelanjutan.

Di sisi lain, gerakan penghijauan juga membutuhkan dukungan program yang terukur, pendampingan teknis, serta keterlibatan masyarakat agar manfaatnya dapat dirasakan secara nyata.

Melalui Kalesang Alam Tanimbar, masyarakat diharapkan memiliki peran lebih besar dalam menjaga tanah, air, dan hutan sebagai bagian dari kehidupan serta sumber penghidupan generasi sekarang dan mendatang.

Penanaman 100 bibit pohon di Bomaki menjadi langkah awal dari gerakan tersebut. Tantangan berikutnya adalah memastikan setiap bibit tumbuh, kawasan sumber air tetap terjaga, dan kolaborasi yang telah dibangun tidak berhenti setelah kegiatan berakhir.

Di tengah besarnya perhatian terhadap potensi gas abadi Blok Masela, masa depan Tanimbar tidak hanya ditentukan oleh kekayaan sumber daya alamnya, tetapi juga oleh kesungguhan semua pihak dalam menjaga lingkungan dan sumber air yang menjadi penopang kehidupan masyarakat.

Baca Juga:

Jelang Apel Akbar 10 Ribu Kader; Pemuda Katolik, ISKA, dan LKLM Gaungkan Gerakan Kalesang Alam Tanimbar

Jelang Apel Akbar 10 Ribu Kader; Pemuda Katolik, ISKA, dan LKLM Gaungkan Gerakan Kalesang Alam Tanimbar

Dari sebanyak 100 bibit pohon jenis Torem yang disiapkan panitia, beberapa diantaranya ditanam secara simbolis di lokasi kegiatan oleh Staf Ahli Bupati, Wakil Uskup, perwakilan dari Kejari Tanimbar, perwakilan Dandim 1507/Saumlaki, perwakilan Kapolres Kepulauan Tanimbar, Kapolsek Tanimbar Selatan, Perwakilan INPEX Ltd dan SKK Migas, Ketua LKLM, Ketua ISKA Kota Ambon, Ketua PK Komcab Tanimbar, Camat Tanimbar Selatan, dan tamu undangan lainnya yang hadir. (*)