JAKARTA, FordataNews.com — Dalam momentum peringatan Hari Kebangkitan Nasional ke-118, Konferensi Waligereja Indonesia (KWI) menyampaikan seruan pastoral bernada tajam dan reflektif terhadap berbagai persoalan bangsa.
Melalui dokumen bertajuk “Bangkit Bersama dalam Pengharapan”, para Uskup Katolik Indonesia mengajak seluruh elemen bangsa, kembali membangun Indonesia dengan semangat gotong royong, keadilan sosial, demokrasi yang sehat, dan penghormatan terhadap martabat manusia.
Seruan yang dirilis pada 20 Mei 2026 itu menegaskan bahwa kebangkitan nasional tidak sekadar mengenang sejarah perjuangan bangsa, tetapi menjadi panggilan moral untuk menghadapi berbagai tantangan Indonesia hari ini, mulai dari ketimpangan ekonomi, krisis demokrasi, konflik Papua, hingga kerusakan lingkungan.
“Kebangkitan nasional lahir bukan hanya dari semangat politik, tetapi juga dari keberanian moral, solidaritas sosial, dan keyakinan bahwa masa depan bangsa yang lebih baik harus dibangun bersama,” tulis KWI dalam seruan pastoral tersebut.
KWI menilai bangsa Indonesia tengah menghadapi situasi kompleks di tengah ketidakpastian global dan persoalan domestik yang semakin berat.
Karena itu, seluruh komponen bangsa — pemerintah, masyarakat sipil, komunitas agama, dunia pendidikan, hingga pelaku ekonomi — diminta berjalan bersama menjaga harapan dan memperkuat persaudaraan kebangsaan.
Soroti Luka Sosial dan Krisis Mental
Dalam seruannya, KWI menyoroti semakin nyata luka sosial di tengah masyarakat. Tekanan ekonomi, meningkatnya kecemasan generasi muda, hingga krisis kesehatan mental disebut menjadi tantangan serius yang harus segera dijawab negara dan masyarakat.
Selain itu, para Uskup juga menyinggung masih tingginya kekerasan terhadap perempuan dan anak, serta minimnya perhatian terhadap kelompok rentan seperti lansia, penyandang disabilitas, dan masyarakat adat.
“Pembangunan sejati tidak hanya diukur dari pertumbuhan ekonomi, tetapi dari kemampuan bangsa menjaga martabat manusia yang paling lemah,” demikian isi seruan tersebut.
Papua Dinilai Butuh Dialog, Bukan Pendekatan Keamanan
Salah satu bagian paling kuat dalam seruan pastoral itu adalah sorotan terhadap situasi di Tanah Papua.
KWI menyebut Papua masih menyimpan luka panjang akibat kekerasan dan hilangnya rasa saling percaya yang terjadi lintas generasi.
Para Uskup menegaskan bahwa persoalan Papua tidak bisa semata-mata diselesaikan melalui pendekatan keamanan.
“Pendekatan keamanan bukanlah jalan cepat dan tepat dalam penyelesaian masalah di Papua,” tegas KWI.
Sebaliknya, KWI mendorong pendekatan yang lebih manusiawi, dialogis, partisipatif, serta menghormati sejarah, budaya, dan hak-hak dasar masyarakat Papua.
Kritik Ketimpangan dan Korupsi
KWI juga menyinggung kondisi ekonomi nasional yang dinilai belum sepenuhnya dirasakan masyarakat kecil meskipun pemerintah terus mendorong pembangunan dan investasi.
Dalam seruan itu, para Uskup menyuarakan keprihatinan atas pengangguran, kenaikan biaya hidup, serta ketimpangan sosial yang semakin melebar. Korupsi dan penyalahgunaan kekuasaan disebut masih melukai rasa keadilan masyarakat.
Bangsa Indonesia, menurut KWI, membutuhkan tata kelola pemerintahan yang lebih jujur, transparan, dan berpihak kepada rakyat kecil.
“Politik dan ekonomi sejatinya merupakan sarana pelayanan demi kesejahteraan umum, bukan sekadar perebutan kepentingan dan keuntungan kelompok tertentu,” tulis KWI.
Peringatkan Gejala Kemunduran Demokrasi
Selain persoalan ekonomi, KWI turut menyoroti kondisi demokrasi Indonesia yang dinilai menghadapi tantangan serius.
Ruang dialog publik disebut semakin sempit, sementara kritik kerap dipandang sebagai ancaman.
KWI bahkan mengingatkan adanya gejala kemunduran demokrasi dan kecenderungan otoritarianisme melalui pendekatan legalisme kekuasaan.
Para Uskup mengajak seluruh elemen bangsa menjaga demokrasi tetap sehat dengan menjunjung tinggi nilai-nilai Pancasila, supremasi hukum, keterbukaan, dan penghormatan terhadap kebebasan berekspresi.
“Kekuasaan sejatinya adalah amanah untuk melayani, bukan sarana dominasi,” tegas seruan itu.
Krisis Ekologi Jadi Sorotan
Dalam bidang lingkungan hidup, KWI menilai Indonesia tengah menghadapi luka ekologis yang serius akibat deforestasi, pencemaran, eksploitasi sumber daya alam, dan pembangunan yang tidak berkelanjutan.
KWI secara khusus menyinggung proyek panas bumi di Flores serta proyek food estate di Papua yang dinilai berpotensi menimbulkan persoalan apabila dilakukan secara top-down dan mengabaikan konsultasi publik.
Mengutip ensiklik Laudato Si’ dari Paus Fransiskus, KWI mengingatkan bahwa bumi bukan objek eksploitasi, melainkan rumah bersama yang harus dirawat dengan cinta dan tanggung jawab.
Ajak Bangsa Bangkit dalam Semangat Gotong Royong
Di akhir seruannya, KWI mengajak seluruh rakyat Indonesia membangun kembali fondasi kebangsaan melalui solidaritas, dialog, dan semangat gotong royong.
Seruan itu juga mengutip pesan damai dari Paus Leo XIV yang mengajak umat manusia membangun jembatan kasih melalui dialog dan perjumpaan.
Baca Juga:
Yubileum Se’abad TMM Ambon Disiapkan Matang, Duta Vatikan dan Para Uskup Dijadwalkan Hadir
Yubileum Se’abad TMM Ambon Disiapkan Matang, Duta Vatikan dan Para Uskup Dijadwalkan Hadir
“Dengan semangat sinodal — berjalan bersama — marilah kita menjaga Indonesia sebagai rumah bersama yang adil, beradab, damai, dan bermartabat,” tutup seruan pastoral KWI. (*)




