SAUMLAKI, FordataNews.com — Di Jakarta, tepuk tangan menggema. Lampu-lampu panggung menyala terang saat Kabupaten Kepulauan Tanimbar menerima penghargaan Universal Health Coverage (UHC) Kategori Pratama.
Penghargaan itu merupakan sebuah simbol keberhasilan, sebuah pengakuan negara bahwa layanan kesehatan di daerah yang berbatas langsung dengan Australia ini dinilai telah menjangkau rakyat.
Namun, ratusan kilometer dari gemerlap itu, di Dusun Mitak, Desa Awear Baru, Kecamatan Wuarlabobar, Kabupaten Kepulauan Tanimbar, kenyataan berbicara dengan cara yang jauh lebih sunyi dan lebih kejam.
Minggu (5/4/2026), seorang ibu hamil berinisial DS meninggal dunia dalam perjalanan rujukan. Ia tidak wafat di ruang operasi, bukan pula di bawah penanganan dokter spesialis dengan peralatan memadai.
Ibu ini menghembuskan nafas terakhir di tengah keterbatasan, di perjalanan panjang yang seharusnya menjadi jembatan menuju keselamatan.
ARTI UHC
Di titik inilah, penghargaan itu kehilangan maknanya. Apa arti UHC jika akses nyata masih terhalang jarak, minimnya fasilitas, dan sistem rujukan yang lamban?
Apa makna “cakupan kesehatan semesta” jika keselamatan warga masih ditentukan oleh seberapa dekat mereka dengan kota?
Kasus di Mitak bukan sekadar peristiwa duka. Itu adalah potret telanjang dari jurang antara laporan administratif dan kenyataan di lapangan.
Di atas kertas, angka cakupan bisa dipenuhi. Tetapi di lapangan, nyawa tetap menjadi taruhan.
Penghargaan UHC Pratama seharusnya menjadi cermin keberhasilan sistem. Namun dalam konteks ini, ia justru berpotensi menjadi ironi, bahkan sindiran ketika satu nyawa tidak mampu diselamatkan karena sistem yang belum sepenuhnya siap.
Lebih jauh, tragedi ini menguak persoalan klasik yang belum terjawab: ketimpangan layanan kesehatan antara pusat dan daerah, antara kota dan pelosok.
Infrastruktur terbatas, tenaga medis yang tidak merata, serta sistem rujukan yang belum responsif, terus menjadi persoalan berulang yang seolah dibiarkan menjadi “normal baru”.
Pertanyaannya kini bukan lagi soal penghargaan, melainkan keberanian untuk jujur mengevaluasi.
SERTIFIKAT
Apakah pemerintah daerah berani mengakui bahwa capaian UHC belum sepenuhnya menyentuh kualitas layanan?
Apakah ada langkah konkret untuk memastikan fasilitas di tingkat bawah benar-benar siap menangani kondisi darurat?
Karena pada akhirnya, ukuran keberhasilan layanan kesehatan tidak diukur dari jumlah sertifikat yang dipajang, melainkan dari berapa banyak nyawa yang berhasil diselamatkan, terutama di pelosok.
Mitak telah memberikan jawaban yang pahit.
Baca Juga:
Long Boat Terbalik di Perairan Watmasa, Tiga Penumpang Tewas, Satu Masih Hilang
Long Boat Terbalik di Perairan Watmasa, Tiga Penumpang Tewas, Satu Masih Hilang
Kini, publik menunggu, apakah ini akan menjadi sekadar catatan duka yang berlalu, atau titik balik untuk membenahi sistem yang selama ini terlalu nyaman dengan klaim keberhasilan? (*)








