Ambon  

Menjemput Masela: Ujian Serius SDM Tanimbar Menuju Blok Abadi

AMBON, FordataNews.com – Euforia pembangunan Proyek Blok Masela di Kabupaten Kepulauan Tanimbar tidak dapat dihindari. Proyek strategis nasional di sektor minyak dan gas ini telah menjelma menjadi simbol harapan, bahkan oleh sebagian kalangan disebut sebagai “primadona baru” yang diyakini mampu mengangkat derajat ekonomi masyarakat lokal.

Namun di balik optimisme itu, terselip satu pertanyaan mendasar. Apakah sumber daya manusia (SDM) lokal benar-benar siap, atau hanya akan menjadi penonton di tanah sendiri?

Ketua Ikatan Sarjana Katolik (ISKA) Kota Ambon, Matias Neis Watunglawar, S.H., M.H., melalui media ini, Kamis (26/3/2026), mengingatkan bahwa geliat pembangunan harus diiringi dengan kesiapan tenaga kerja lokal yang terukur, sistematis, dan berkelanjutan.

Menurutnya, visi besar pemerintah daerah tidak cukup hanya berhenti pada retorika pembangunan, tetapi harus menjelma menjadi strategi konkret yang menyentuh akar persoalan, yakni kualitas SDM.

Antara Harapan dan Ancaman Pengangguran Lokal

Proyek Blok Masela menjanjikan ribuan lapangan kerja. Namun tanpa kesiapan yang matang, janji itu bisa berubah menjadi ironi sosial.

Watunglawar menyoroti potensi munculnya pengangguran lokal jika masyarakat tidak dibekali kompetensi yang sesuai dengan kebutuhan industri migas.

Kekhawatiran ini bukan tanpa alasan. Dalam banyak proyek besar di Indonesia, masyarakat lokal kerap tersingkir oleh tenaga kerja dari luar daerah. Bukan karena kurang kemauan, tetapi karena kalah dalam kompetensi.

Di sinilah urgensi pendekatan “by name by address” menjadi relevan. Pendataan tenaga kerja lokal secara detail bukan sekadar administrasi, melainkan fondasi untuk memastikan siapa yang siap, siapa yang perlu dilatih, dan siapa yang berpotensi tertinggal.

Tanpa langkah ini, proyek sebesar Masela berisiko hanya menjadi angka statistik pertumbuhan ekonomi, tanpa dampak signifikan bagi kesejahteraan masyarakat Tanimbar.

Peran Vokasi: Kunci yang Sering Diabaikan

Salah satu solusi yang telah tersedia sebenarnya cukup jelas, yakni penguatan pendidikan vokasi dan pelatihan kerja.

Keberadaan Balai Pelatihan Vokasi dan Produktivitas (BPVP) Ambon menjadi peluang strategis yang tidak boleh disia-siakan.

Masalahnya, selama ini pelatihan sering bersifat sporadis, sekadar program jangka pendek tanpa kesinambungan.

Watunglawar menekankan bahwa pengiriman peserta pelatihan tidak boleh lagi bersifat “sekali dua kali”, tetapi harus menjadi gerakan sistematis dan masif.

Menurutnya, pelatihan harus berbasis kebutuhan industri, bukan sekadar formalitas program. Artinya, jenis kejuruan yang diajarkan harus selaras dengan kebutuhan riil proyek migas. Mulai dari teknisi, operator, hingga tenaga pendukung dengan standar kompetensi tinggi.

“Jika tidak, maka lulusan pelatihan hanya akan menambah daftar panjang pencari kerja tanpa arah yang jelas,“ kata Ketua ISKA Kota Ambon ini.

Jangan Biarkan Putra Daerah Jadi Penonton

Wacana ini adalah soal posisi tenaga kerja lokal. Tanpa intervensi serius, bukan tidak mungkin masyarakat Tanimbar hanya akan menempati posisi sebagai tenaga kerja non-inti, sekadar pelengkap, bukan pelaku utama.

Menurut Ketua Umum ISKA Indonesia, Luky Agung Yusgiantoro, kualitas SDM Tanimbar sejatinya tidak perlu diragukan. Pernyataan ini sekaligus menjadi dorongan moral bahwa persoalan utama bukan pada potensi, melainkan pada kesiapan dan pengelolaan.

Dengan kata lain, kegagalan menempatkan tenaga kerja lokal di posisi strategis bukan karena ketidakmampuan, tetapi karena lemahnya perencanaan.

Sinergi yang Tidak Bisa Ditunda

Pada akhirnya, keberhasilan Tanimbar dalam memanfaatkan Proyek Blok Masela akan sangat ditentukan oleh sinergi antar lembaga. Pemerintah daerah, lembaga pelatihan, dan pihak industri harus berjalan dalam satu irama.

Koordinasi tidak boleh lagi bersifat seremonial. Dibutuhkan langkah konkret berupa pemetaan kebutuhan tenaga kerja, kurikulum pelatihan berbasis industri, hingga sistem rekrutmen yang transparan dan berpihak pada tenaga lokal yang kompeten.

Masela bukan sekadar proyek energi, namun ia adalah sumbangsih terbesar kinerja pemerintah pusat bagi keberpihakan pembangunan di Maluku.

Jika Pemerintah Daerah tidak mempersiapkan SDM lokal dengan serius sejak sekarang, maka Tanimbar tidak hanya akan menjadi lokasi eksploitasi sumber daya, tetapi juga tidak akan melahirkan tenaga kerja yang unggul dan mampu bersaing.

Baca Juga :

ISKA dan Pemuda Katolik Gelar Pelatihan Barista di Ambon, Dorong Kemandirian dan Daya Saing SDM

ISKA dan Pemuda Katolik Gelar Pelatihan Barista di Ambon, Dorong Kemandirian dan Daya Saing SDM

“Namun jika tidak, maka sejarah lama akan kembali terulang, di mana kekayaan alam melimpah, tetapi kesejahteraan masyarakat tetap tertinggal,“ tutup Watunglawar. (*)

Penulis: Yanto SamangunEditor: Yanto Samangun