SAUMLAKI, FordataNews.com – Komando Brigade Infanteri (Brigif) 27 Nusa Ina memberikan klarifikasi resmi terkait pemberitaan sebelumnya mengenai tragedi ledakan granat pelontar yang menewaskan dua warga di Desa Atubul Dol, Kecamatan Wertamrian, Kabupaten Kepulauan Tanimbar.
Komandan Brigif 27 Nusa Ina, Kolonel Inf Sri Widodo, yang juga bertindak sebagai Wakil Komandan Latihan (Wadanlat) pada kegiatan latihan Yonif 734/SNS, menegaskan bahwa pihaknya tidak menutup diri atas insiden tersebut dan telah mengambil sejumlah langkah penanganan serta pencegahan.
Pernyataan itu disampaikan Sri Widodo kepada awak media pada Selasa (17/3/2026) di Hotel Villa Bukit Indah, Saumlaki.
LATIHAN DILAKUKAN SESUAI PROSEDUR
Menurut Sri Widodo, kegiatan latihan militer di kawasan Desa Atubul Dol dilaksanakan pada 8–9 Maret 2026 dan meliputi beberapa materi latihan, termasuk menembak mortir dan latihan penggunaan senjata berat (gelen).
Ia menegaskan bahwa seluruh kegiatan dilakukan sesuai prosedur operasional standar yang berlaku di lingkungan militer.
“Selama dua hari kegiatan latihan tersebut berjalan aman. Setiap selesai pelaksanaan latihan, kami selalu melaksanakan prosedur tetap berupa pengecekan akhir terhadap sisa tembakan, termasuk memastikan mana amunisi yang meledak dan mana yang tidak,” jelas Sri Widodo.
Ia menyebutkan bahwa pembersihan terhadap sisa-sisa tembakan juga telah dilakukan setiap hari setelah kegiatan latihan selesai.
LATIHAN DISEBUT BELUM SEPENUHNYA SELESAI
Terkait insiden menimpa warga Atubul Dol yang terjadi pada 16 Maret 2026, Sri Widodo menjelaskan bahwa kegiatan latihan di lokasi tersebut sebenarnya belum sepenuhnya dinyatakan selesai.
Menurutnya, hingga saat ini pihak TNI belum menyerahkan secara resmi area yang digunakan untuk latihan kepada pemerintah desa setempat sebagai tanda bahwa wilayah tersebut telah dinyatakan aman bagi masyarakat.
“Kami belum menyerahkan surat yang menyatakan bahwa lahan tersebut sudah aman untuk dilalui masyarakat. Artinya kegiatan kami di lokasi itu sebenarnya belum sepenuhnya selesai,” ujarnya.
Ia menduga korban menemukan benda yang terlihat seperti barang unik di kebun, tanpa mengetahui bahwa benda tersebut merupakan amunisi berbahaya yang belum meledak.
PENYISIRAN ULANG AREA LATIHAN
Sebagai langkah pencegahan, Brigif 27 Nusa Ina saat ini melakukan pembersihan ulang di area latihan untuk memastikan tidak ada lagi amunisi yang tertinggal atau gagal meledak.
Dalam penyisiran awal dengan radius sekitar 100 meter dari titik sasaran tembak, tim militer telah menemukan empat granat pelontar yang belum meledak.
“Besok kami akan melakukan penyisiran lanjutan dengan dua metode, yaitu menggunakan metal detector dan metode manual dengan membuka ilalang satu per satu hingga ke dasar tanah,” kata Sri Widodo.
Ia menjelaskan bahwa kondisi lapangan yang dipenuhi ilalang setinggi pinggang cukup menyulitkan proses pencarian menggunakan alat deteksi logam.
WARGA DIMINTA TAK MASUKI AREA LATIHAN
Pihak TNI juga telah mengimbau masyarakat Desa Atubul Dol agar tidak memasuki area latihan hingga proses pembersihan dinyatakan selesai dan wilayah tersebut benar-benar aman untuk aktivitas masyarakat.
Selain itu, masyarakat diminta segera melapor jika menemukan benda mencurigakan yang diduga merupakan sisa amunisi.
“Jika ada masyarakat yang menemukan benda yang dianggap aneh atau mencurigakan, kami harapkan segera melaporkan kepada pihak kami agar dapat diamankan,” ujarnya.
BANTU PENANGANAN KORBAN
Sri Widodo menyampaikan bahwa pihak TNI turut membantu proses penanganan korban, baik yang meninggal dunia maupun yang masih menjalani perawatan di rumah sakit.
TNI juga telah membantu proses pemakaman korban serta memberikan dukungan kepada keluarga yang ditinggalkan.
Ia menambahkan bahwa keluarga korban memiliki hubungan emosional dengan institusi TNI karena salah satu anak almarhum diketahui bertugas sebagai prajurit di Batalyon Yonif 865 yang bermarkas di Piru, Seram Bagian Barat, yang juga berada di bawah Brigade 27.
“Karena itu kami memiliki beban moral terhadap keluarga yang ditinggalkan. Duka ini menjadi bagian dari tanggung jawab kami untuk membantu keluarga korban,” ujarnya.
KETERBATASAN LAHAN JADI EVALUASI
Sri Widodo juga mengakui bahwa keterbatasan lahan khusus untuk latihan militer masih menjadi tantangan bagi satuan di wilayah tersebut.
Saat ini pihaknya tengah melakukan koordinasi dengan pemerintah daerah serta instansi terkait untuk mencari dan menyiapkan lokasi latihan permanen yang tidak berada di sekitar aktivitas masyarakat.
“Kami sedang mendata dan mencari lahan yang dapat dijadikan daerah latihan khusus sehingga ke depan kegiatan latihan tidak lagi menggunakan atau mengganggu lahan milik masyarakat,” jelasnya.
ASAL AMUNISI MASIH DIDALAMI
Dalam latihan tersebut, tercatat 198 amunisi Mortir dan Granat Pelontar digunakan oleh satuan latihan.
Berdasarkan pencatatan Tim Asistensi Teknik (Asnik), terdapat satu amunisi yang terdata tidak meledak. Namun hingga kini pihak TNI masih mendalami apakah amunisi yang menyebabkan insiden tersebut berasal dari latihan pada 8–9 Maret 2026 atau dari latihan sebelumnya pada Desember 2025.
“Hal ini masih dilakukan pengecekan oleh tim Asnik untuk memastikan asal amunisi tersebut,” kata Sri Widodo.
Ia menegaskan bahwa seluruh temuan di lapangan akan terus didalami guna memastikan penyebab pasti kejadian sekaligus mencegah tragedi serupa terjadi di masa mendatang.
KORBAN MENINGGAL BERTAMBAH
Dilansir media ini pasca keterangan resmi Komandan Brigif 27 Nusa Ina, jumlah korban meninggal dunia dalam insiden ledakan granat pelontar di Desa Atubul Dol dilaporkan bertambah menjadi tiga orang.
Jika sebelumnya dua korban dinyatakan meninggal dunia di lokasi kejadian, kini istri Rafael Romroman, Ny. Afia Batmianik/Romroman, yang sempat mengalami luka berat akibat serpihan ledakan, akhirnya menghembuskan napas terakhirnya saat menjalani perawatan intensif di RSUD dr. P. P. Magretti, Saumlaki.
Ny. Afia sebelumnya berada di dekat lokasi saat granat tersebut meledak dan mengalami luka serius di beberapa bagian tubuh.
Sejak malam kejadian, ia langsung dilarikan ke rumah sakit dan mendapat penanganan medis intensif dari tim dokter.
Namun setelah beberapa hari menjalani perawatan, kondisinya dilaporkan terus menurun hingga akhirnya dinyatakan meninggal dunia. Sementara, sejumlah korban lainnya masih menjalani perawatan akibat luka yang diderita.
Baca Juga :
Akhir Tragis! Duka Keluarga Romroman Bertambah
Akhir Tragis! Duka Keluarga Romroman Bertambah
Peristiwa ini semakin memperdalam duka bagi keluarga korban dan masyarakat Desa Atubul Dol, sekaligus menjadi perhatian serius berbagai pihak terkait untuk memastikan proses pembersihan sisa amunisi di lokasi latihan benar-benar dilakukan maksimal. (*)







