SAUMLAKI, FordataNews.com — Agenda besar berskala nasional yang dinanti-nantikan masyarakat Maluku, khususnya Kabupaten Kepulauan Tanimbar (KKT), kini sudah di depan mata. Prosesi Ground Breaking Proyek Strategis Nasional (PSN) Gas Abadi Blok Masela dijadwalkan akan dilaksanakan pada 16 Juli 2026 mendatang.
Alarm sejarah sudah berbunyi. Mesin raksasa PSN Blok Masela tinggal menunggu aba-aba untuk Ground Breaking. Bendera merah putih, bendera investor, dan harapan 100 ribu warga Tanimbar sudah siap berkibar di Lermatang.
Tapi di Rumah Besar Duan Lolat, pemandangan yang terlihat justru sebaliknya: “Pemkab KKT terlihat tidur pulas“.
H-5 menjelang seremoni nasional itu, belum ada tanda-tanda siaga dari pemerintah daerah. Tidak ada rapat akbar. Tidak ada konsolidasi desa. Tidak ada komando jelas untuk rakyat. Kursi komando kosong. Yang ada hanya kabar “Bupati masih di perantauan alias di luar daerah”.
MOLOR DI MOMEN BERSEJARAH
Ini bukan proyek biasa. Blok Masela adalah proyek migas terbesar se-Asia Tenggara. Nilainya ratusan triliun. Dampaknya 30 tahun ke depan.
Logikanya, Pemkab Tanimbar harusnya sudah begadang 3 hari 3 malam. Turun ke desa, kawal ganti rugi, pastikan anak Tanimbar jadi prioritas kerja, jaga lingkungan, dan lain sebagainya
Faktanya? Sepi..!!!
“Kayak tidak ada apa-apa. Padahal tanah kita yang digali. Laut kita yang dibor. Masa tuan rumah malah tidur?” cetus aktivis LSM Altar, Sumitro Fenanlambir dengan nada kecewa.
Menjelang Ground Breaking Blok Masela, atmosfer persiapan di Kota Saumlaki, ibu kota Kabupaten Kepulauan Tanimbar, terpantau masih adem ayem. Belum ada pergerakan masif atau koordinasi nyata dari pemda setempat untuk mematangkan kesiapan infrastruktur maupun estetika kota.
Kota Saumlaki tanpa sentuhan, Pemkab Tanimbar dinilai gagap. Kritik tajam mulai berdatangan dari berbagai kalangan masyarakat dan pemerhati daerah. Mereka menyayangkan sikap Pemkab Tanimbar yang terlihat santai dan tidak responsif terhadap agenda nasional ini.
Pantauan di lapangan menunjukkan wajah Kota Saumlaki sama sekali belum disentuh oleh program pembersihan, sekalipun sudah disampaikan sekda KKT, Brampy Moriolkosu, persiapan fasilitas umum, maupun ornamen penyambutan yang selayaknya dipersiapkan untuk menyambut momen bersejarah ini.
“Ini agenda super penting, investasi raksasa yang akan mengubah masa depan Tanimbar. Tapi anehnya, Pemkab Tanimbar seperti tidak punya beban. Kota Saumlaki masih begini-begini saja, belum ada jamahan apa-apa terkait pembersihan kota atau penataan estetika menyambut Ground Breaking Blok Masela,“ ujar Sumitro.
PERTARUHAN WAJAH DAERAH DI MATA NASIONAL
Ketidaksiapan Pemkab Tanimbar ini dikhawatirkan akan memberikan citra buruk bagi daerah di mata pemerintah pusat dan para investor global yang mengawal PSN Blok Masela.
Sebagai tuan rumah dari salah satu proyek gas terbesar di dunia, Pemkab Kepulauan Tanimbar seharusnya mengambil langkah cepat dan taktis sejak jauh-jauh hari, baik dari segi pengamanan, kebersihan lingkungan, hingga koordinasi seremonial.
TIDUR TAPI MINTA JAGA
Yang lebih ironis adalah, permintaan kehadiran TNI untuk pengamanan proyek tetap jalan. Berarti berani minta dijaga, tapi tidak berani bangun untuk menjaga rakyatnya sendiri.
Filosofi Duan Lolat bilang: “Kapitan harus paling awal bangun dan paling akhir tidur saat kampung ada hajatan besar”.
Sekarang hajatan terbesar Tanimbar sudah di depan pintu. Tapi rumah besar masih gelap.
JANGAN BANGUN SAAT SEMUANYA TERLAMBAT
Kami tidak menolak Masela. Kami menolak kalau Masela dimulai tanpa ada Pemkab Tanimbar yang berdiri di garis depan.
Jangan sampai setelah Ground Breaking baru sibuk konferensi pers. Jangan sampai setelah tanah digali baru ribut soal tenaga kerja lokal. Jangan sampai setelah kontrak diteken baru teriak “ini hak kami..!“
Bangun, Bapak-Bapak, Ibu-Ibu di Pemkab Tanimbar!
Rakyat Tanimbar tidak butuh pemimpin yang jago tidur dan jalan-jalan, Rakyat Tanimbar butuh pemimpin yang jago mengawal.
“Karena kalau Pemkab Tanimbar terus tidur, sejarah akan mencatat: Blok Masela dibangun di atas tanah Tanimbar, tapi tanpa kehadiran Tanimbar,“ tutup Sumitro.
Hingga berita ini diturunkan, pihak Pemerintah Kabupaten Kepulauan Tanimbar belum memberikan pernyataan resmi terkait lambatnya progres persiapan di ibu kota kabupaten menjelang 16 Juli nanti.
Baca Juga:
Persiapan Matang, Groundbreaking Shelter PSN Blok Masela Ditargetkan Dua Pekan Lagi
Persiapan Matang, Groundbreaking Shelter PSN Blok Masela Ditargetkan Dua Pekan Lagi
Masyarakat mendesak agar dalam waktu yang tersisa beberapa hari ini, Pemkab Tanimbar segera mengambil langkah darurat untuk membenahi wajah Kota Saumlaki. (*)







