Ambon,Fordatanews.com._ Lidah Abdullah Vanath adalah sebuah fenomena langka diatas panggung politik Maluku.
Saat kampanye akbar pilgub Maluku 2013, di lapangan Merdeka, Ambon.Rabu (5/6/2013). Lidahnya tak sekedar membakar semangat ribuan massa pasangan Damai (Abdullah Vanath-Martin Maspaitella) yang berwarna orange.
Kala itu, tajam lidahnya berpadu dengan talenta olah vokal baritonnya, turut pula memberi kedamaian lewat senandung kidung Tiada Yang Mustahil ciptaan Nyong Terseman.
Sejak momentum pilgub Maluku 2013 itu pula, Abdullah Vanath mulai dikenal luas sebagai politisi multi talenta, Lidahnya piawai meramu kata yang kekuatannya sanggup membuai audience, serta ditunjang pula dengan kemampuan yang lumayan mumpuni sebagai biduan. Paket komplit yang langka dimedan politik Maluku.
Pilgub Maluku 2024 lalu, bekas Bupati 2 periode Seram Bagian Timur ini digandeng Politisi senayan Hendrik Lewerissa. Keduanya alumni pilgub Maluku 2013. HL waktu itu maju Wagub pasangan dengan Abdullah Tuasikal.
Artinya dalam pilgub Maluku 2024, terjadi “tukar tampa” pilgub 2013. Giliran HL jadi Cagub, Vanath Cawagub. Jadilah Lawamena yang pantang mundur itu.
Selama penyelenggaraan pilgub Maluku 2024, lidah Vanath dikenal makin tajam serta langsung menelusuk jantung lawan saat kampanye dan debat pilgub.
Saat jadi Wagub usai dilantik pada 20 Februari 2025, Lidahnya itu seolah menjadi meriam penjaga benteng kekuasaan.
Belum setahun memimpin, Meriam sang Wagub itu sudah membidik sana-sini. Dari acara di rumah jabatannya, kawasan Karang Panjang, Kota Tiakur (MBD), Hingga di negeri Luhu, Seram Bagian Barat.
Salah satu tujuannya untuk menegaskan kepada publik akan posisinya yang cuma jadi “ban reserve” mendampingi Gubernur Hendrik Lewerissa.
Selebihnya, lidah Vanath telah menimbulkan kontroversi yang menyinggung umat serta cenderung mengacak-acak harmoni orang basudara.
KELUH KESAH DARI KARPAN SAMPE DI LUHU
Dalam Video amatir yang beredar medio Agustus 2025 memperlihatkan sebuah jamuan pada kediamannya di Karang Panjang,Ambon. Lidah Wagub lancar berkeluh kesah.
Dia mengaku tak bisa membawa tamu ke hotel atau kafe karena tak punya uang. Juga mengeluhkan adanya dugaan intervensi keluarga dalam pemerintahan.
Meskipun mengakui dirinya bukan politisi yang cengeng tapi dia menyebut tak punya ruang untuk memperjuangkan orang-orangnya.
Selain itu Vanath mengaku jadi Wagub tidak dengan Modal Kosong, dia mengklaim punya banyak pengikut diseluruh kabupaten-kota se Maluku.
November 2025, Di Luhu, SBB. saat datang untuk membuka pertandingan sepak bola. Lidah Wagub semakin mempertegas dirinya tak dianggap dalam birokrasi. Dikeluhkan partisipasi OPD yang minim mendampinginya saat beranjangsana.
” Beta ini cuma Wakil Gubernur, ya! Kamong lihat tarada orang bajalang batamang beta ini. Tarada !. Memang Pemerintah Provinsi ini agak aneh-aneh. Ya!. Kalo Gubernur pigi di masyarakat itu semua Kepala Dinas iko, tapi kalo Wakil Gubernur yang pigi itu tarada orang yang mendampingi. Seng apa-apa, Seng apa- apa, Beta akan menjalani seperti ini saja, tapi beta sekecil apapun beta akan berusaha untuk itu menjadi manfaat bagi orang banyak di Maluku, teristimewa di Seram ini” Lidah sang Wagub berucap.
Keluhan Vanath usai 100 hari kerja ini telah menjadi konsumsi publik secara luas. Maka aneka ragam reaksi pun bermunculan.
Yang pasti keduanya dipilih berpasangan oleh rakyat untuk membenahi Maluku. Sehingga tujuan awal ini sebetulnya jangan sekali-lagi jadi luntur dihadapan godaan dan gemerlap kuasa.
Pasca 100 hari kerja, hubungan yang tidak lagi harmonis ini telah ditunjukan berkali-kali secara vulgar ke publik.
Ada analogi bahwa pasangan kepala daerah sejatinya menjadi orang tua untuk masyarakat, tapi kalau rumah tangga tak lagi harmonis maka seisi rumah pasti akan jadi korban.
DARI MUSLIM MAKAN BANYAK, SOPI DAN KHOTBAH USTAD HINGGA PENDETA MINTA BANTU PERAYAAN NATAL.
Lidah Abdullah Vanath memang tak cuma menyerempet seputaran masalah birokrasi dan rasa keadilan dalam bagi-bagi kue kekuasaan di Kantor Gubernur.
Ketajamannya sudah menebas ke segala penjuru, dari soal Muslim makan banyak, Sopi dan Hadis Nabi hingga Pendeta datang minta bantuan untuk perayaan Natal.
—-
Belum sampai 1 bulan usai dilantik, riwayat tajam lidah Abdullah Vanath yang memantik bara api kontroversi pun dimulai.
Pernyataan pertama disampaikannya pada Rabu (5/3/2025), usai rapat pengendalian inflasi di Kantor Gubernur Maluku.
Saat itu, Vanath menyebut bahwa Orang Islam saat siang hari tidak makan (puasa), tetapi saat malam hari, banyak makan. Hal ini menurutnya salah satu penyebab inflasi di Maluku.
Pada 10 Maret 2025, Vanath akhirnya meminta maaf setelah pernyataannya itu jadi sorotan dan viral di media sosial.
4 bulan kemudian lidah Vanath kembali berulah, kali ini kontroversi itu meledak dari perayaan HUT Kabupaten Maluku Barat Daya di Tiakur.
Dalam sambutannya, Wagub Abdullah Vanath mempertanyakan efektivitas ajaran agama dalam mengurangi konsumsi sopi, bahkan menyebut bahwa hukum Tuhan tidak mampu menghentikan kebiasaan tersebut.
“Tapi yang bapak (ustadz) dong khotbah-khotbah selama ini orang minum sopi tambah banya atau tamba sedikit. Tamba banya toh. Itu artinya hukum Tuhan itu dia seng mampan. Karena firman hadits ya, termasuk firman-firman di Alkitab itu akan su seng manjur lae,” kata Vanath.
Sontak saja ucapannya itu menimbulkan gonjang-ganjing besar. Majelis Ulama Islam (MUI) Maluku dan berbagai OKP Islam di Maluku mengutuk pernyataannya.
Massa HMI Cabang Ambon dan KAMMI Cabang Ambon menyeruduk kantor Gubernur dalam aksi demo (31/07/2025).
Selain itu, Pengurus Wilayah Serikat Mahasiswa Muslimin Indonesia (PW SEMMI) Maluku dan SEMMI Kota Ambon Serikat Mahasiswa Muslimin Kota Ambon melaporkannya ke Polda Maluku, Selasa (29/7/2025), atas dugaan penistaan agama.
Setelah gelombang protes dan laporan ke Polda, Wakil Gubernur akhirnya minta maaf ke MUI Maluku pada 31 Juli 2025.
3 ORANG PENDETA DATANG MINTA SUMBANGAN.
Bukannya berkurang atau menahan diri, justru makin menjadi-jadi. Pada 21 November 2025, Dari Bumi Saka Mese Nusa, Lidah Vanath kembali meminta tumbal.
Kali ini menjelang masuk ke minggu-minggu Adventus 2025, giliran Pendeta yang ditebas oleh lidahnya di Luhu, SBB.
” Dua minggu yang lalu ada 3 orang pendeta datang di beta kantor, dong bilang begini
bapak wagub katorang ini mau bikin acara
menjelang Natal. beta bilang bagaimana ?, katong mau minta sumbangan.beta bilang kalau menyangkut dengan uang dong pi di bapak gubernur jua ya. karena ontua yang bisa atur barang itu ya.
Lalu beta bilang for dorang, setelah terakhir- terakhir. lalu dong bilang bapak wagub, kalau bapak wagub seng bisa bantu katong pung acara asal bisa dapat hadir di katong pung acara jua. beta bilang kalau itu jangankan sore, Subuh pun beta datang. beta seng bisa bantu orang kepeng beta seng bisa bantu kamong deng apapa tapi beta percaya bahwa wakil gubernur datang di kamong punya acara itu pasti kamong bangga, sama hari ini meskipun beta datang dengan kaki tangan kosong tapi beta percaya kamong senang karena beta datang lihat kamong punya acara ” Ucap Vanath sebagaimana terdokumendasikan pada video amatir.
Dalam pernyataan ini sebetulnya Wagub mau mengatakan bahwa dirinya tak punya uang, persis seperti pernyataannya waktu acara di kediamannya pada Agustus silam.
Secara tersirat, Dia juga menegaskan bahwa sumber keuangan itu terpusat pada Gubernur.
Yang jadi masalah mengapa harus 3 orang Pendeta yang menjadi contoh untuk memaklumkan kondisi keuangannya kepada orang di Luhu.
Apakah memang hanya mereka bertiga yang datang minta tolong kepadanya selama dirinya menjabat Wakil Gubernur Maluku ?.
Mentalitas pemimpin “olahnisasi” pukul rata semacam ini tentu saja kebablasan. Karena menyinggung entitas kerohanian tanpa menjelaskan siapa, dari mana, aliran mana, sinode apa ?.
Tapi tenang saja pak Wagub, tidak akan ada demo dan apalagi sampai laporan polisi.
Paling-paling cuma riak-riak kecil ketidakpuasan di medsos seperti yang ditunjukan oleh akademisi Dr Nataniel Elake Cs.
Cerita 3 pendeta ini paling tinggi cuma jadi bahan diskusi di forum-forum diskusi eksklusif kekristenan jagad Whatsapp.
Tidak ada juga permohonan minta maaf dan tudingan penistaan agama.
Semuanya normal-normal saja dan sepanjang ini nampaknya bisa dimaklumi bahwa Tiada Yang Mustahil Bagi Lidah Abdullah Vanath.(*)









