banner 728x250

Tanggapi Wagub VS Doktor Elake, Tokoh Muda SBB Serukan Pemimpin Harus Jadi Perekat Dan Jaga Stabilitas

Mengobarkan Debat Publik Adalah Pengkhianatan Terhadap Amanah Kepemimpinan Dan Pengorbanan Stabilitas Daerah Di Altar Ambisi Pribadi. 

Ambon,Fordatanews.com._ Sehari usai Maluku digoncangkan undangan sekaligus tantangan debat oleh Wakil Gubernur Abdullah Vanath kepada Akademisi Doktor Nataniel Elake.

–Baca Juga : Tiada Yang Mustahil Bagi Lidah Abdullah Vanath

banner 325x300

Tokoh Muda Seram Bagian Barat, Gerard Wakanno angkat bicara. Dirinya menanggapi persoalan tantangan debat yang ramai dibicarakan publik Maluku ini.

Dalam rilisnya yang diterima,Kamis (27/11/2025). Wakanno menilai Ofensif verbal yang digulirkan oleh Wakil Gubernur dengan menantang DR. Elake untuk berdebat publik bukan sekadar adu gagasan, melainkan menyimpan potensi bara dalam sekam di tengah lanskap politik Maluku yang sudah rentan.

” Ini bukan tentang pencarian kebenaran, melainkan pertarungan ego yang dikemas dalam retorika. Dan ketika debat ini benar-benar terwujud, yang akan terjadi bukanlah pencerahan, melainkan polarisasi massal yang merobek-robek tenun sosial Maluku.” Tulis Wakanno

–Baca Juga :Gerard Wakanno Membaca Masa Depan Maluku Dalam Trend Pemberitaan Media Online

MEMICU GELOMBANG PERMUSUHAN DI AKAR RUMPUT

Sebagai pendukung dan pengagum Bapak Abdulah Vanath dan Bpk DR. Elake,  Wakanno membayangkan bagaimana para pendukung setia Bpk. DR. Elake dari basis Taniwel dan Seram Barat akan berdiri berseberangan secara diametral dengan kubu Pak Abdullah Vanath dari Seram Bagian Timur.

Dirinya menilai Debat di panggung elite ini akan menjadi pertunjukan yang memicu gelombang permusuhan di akar rumput. Persaudaraan yang selama ini dijaga dengan susah payah akan retak oleh narasi “kita versus mereka”.

Selain itu, menurutnya, Perbedaan pendapat yang sehat akan berubah menjadi kebencian sektoral, di mana loyaltas pada tanah kelahiran (Salam-Seram Timur versus Kristen-Seram Barat) akan dikerahkan sebagai senjata politik. Ini adalah resep sempurna untuk bencana sosial.

Wakanno menegaskan yang lebih memalukan adalah akar polemiknya yaitu permintaan sumbangan dari tiga pendeta kepada Wakil Gubernur. Alih-alih diselesaikan secara elegan dan tertib melalui mekanisme etika dan hukum, persoalan sensitif ini justru diangkat ke gelanggang publik, dijadikan tontonan yang mengundang sorak-sorai pendukung.

Debat semacam ini mengubah ruang publik menjadi colosseum tempat gengsi dan ambisi dipertaruhkan, sementara substansi pemerintahan dan kesejahteraan rakyat terlupakan.

PEMIMPIN SEJATI HARUS JADI PEREKAT BUKAN PEMECAH BELAH

Dia menilai Inilah citra buruk yang akan melekat pada Maluku, bahwa pemimpinnya lebih suka adu jotos di atas panggung daripada duduk bersama menyelesaikan masalah.

” Sebuah daerah yang stabilitas politiknya begitu rapuh sehingga bisa dihancurkan oleh sekadar undangan debat. Dunia luar akan melihat Maluku sebagai wilayah yang lebih mengutamakan sensasi daripada solusi, lebih memilih konflik daripada kolaborasi” Urai Wakanno dalam rilisnya.

Dia menghimbau, para pemimpin sejati seharusnya menjadi perekat, bukan pemecah belah. Tugas mereka adalah mendinginkan situasi, bukan mengobarkan api permusuhan.

Wakanno menegaskan dalam rilisnya bahwa Pemimpin yang bermartabat akan menolak godaan untuk memenuhi “panggung debat” dan memilih jalur diplomasi yang elegan.

“Mereka seharusnya bekerja untuk memenuhi perut rakyat yang lapar akan keadilan dan kesejahteraan, bukan memuaskan perut golongannya sendiri dengan proyek kekuasaan” tulisnya.

Baginya, mengobarkan debat publik adalah pengkhianatan terhadap amanah kepemimpinan dan pengorbanan stabilitas daerah di altar ambisi pribadi.

“Jangan biarkan Maluku kembali menjadi medan laga politik yang mengorbankan masa depan anak cucu kita demi kepuasan sesaat segelintir elite” Tutupnya.(*)

banner 325x300