BEIJING, FordataNews.com – Sebuah momen tak terduga namun penuh kehangatan mewarnai siaran langsung China Global Television Network (CGTN) dari Beijing.
Di tengah wawancara khusus Festival Musim Semi, presenter Ioana Gomoi memberikan kejutan istimewa kepada Duta Besar Republik Indonesia untuk Tiongkok, Djauhari Oratmangun, bersama sang istri, Wiwik Oratmangun.

Kejutan istimewa tersebut berupa sebuah maskot resmi Gala Festival Musim Semi China Media Group (CMG) 2026.
Kejutan itu hadir spontan, sesuatu yang jarang terjadi dalam format siaran televisi Tiongkok yang dikenal presisi dan terstruktur.
Seketika, suasana studio mencair. Tawa ringan dan gestur hangat menggantikan formalitas, menghadirkan keakraban yang terasa tulus dan manusiawi.
Momen singkat tersebut justru menjadi sorotan utama bahwa sebuah potret kecil tentang diplomasi yang hidup, dekat, dan berjiwa.
Lebih dari sekadar intermezzo siaran, kejutan itu merefleksikan karakter hubungan Indonesia–Tiongkok yang kerap dirangkum sebagai friendship beyond formality.

Di ruang publik global yang biasanya serba protokoler, kehangatan semacam ini menyampaikan pesan kuat, bahwa hubungan antar bangsa juga dibangun oleh rasa saling percaya dan empati.
Dalam wawancara tersebut, Dubes Djauhari Oratmangun mengulas makna Gala Festival Musim Semi CMG 2026 sebagai fenomena budaya dunia.
Program tahunan ini dikenal sebagai pertunjukan Tahun Baru China terbesar di dunia, disaksikan ratusan juta pemirsa lintas benua, dengan produksi berskala masif, kolaborasi seni lintas disiplin, serta integrasi teknologi siaran mutakhir.
“Gala CMG adalah representasi bagaimana budaya dapat dikemas dalam skala yang luar biasa, dengan standar artistik dan teknologi yang sangat tinggi,” ujar Dubes Djauhari.
Dirinya berujar, hal itu bukanlah sekedar hiburan, melainkan pengalaman budaya yang modern dan kolektif.
Ia menekankan peran teknologi yang tidak menggantikan tradisi, melainkan menghidupkannya.
“Teknologi memperkaya cara cerita disampaikan, memperluas jangkauan budaya, dan pada akhirnya menyatukan audiens dari berbagai belahan dunia,” tambahnya.
Dijelaskan Dubes Djauhari, Gala tahun ini kian bermakna karena berlangsung pada Tahun Kuda 2026 yang menurutnya sebagai simbol energi, kemajuan, dan lompatan ke depan.
“Kami memandang 2026 sebagai tahun di mana kerja sama Indonesia dan Tiongkok terus berpacu kencang, bergerak lebih dinamis, dan melompat menuju kesejahteraan bersama,” pungkasnya.
Kedekatan ini bukan kali pertama tercermin di layar CGTN. Pada Agustus 2022, Ioana Gomoi juga mewawancarai Dubes Djauhari dalam program The Vibe CGTN, yang meraih jumlah penonton global luar biasa.
Dalam kesempatan itu, Ioana bahkan menjuluki KBRI Beijing sebagai “the happiest embassy in Beijing”. Sebuah ungkapan yang menggambarkan wajah diplomasi Indonesia di Tiongkok, terbuka, hangat, dan membumi.
Baca Juga :
Santan Kelapa dan Kopi Indonesia Kuasai Pasar Tiongkok, Dubes RI Resmikan Gerai ke-30 Ribu Luckin Coffee di Shenzhen
Sebuah kejutan kecil di layar kaca, namun dengan pesan besar, bahwa diplomasi yang berdaya justru tumbuh dari sentuhan manusiawi. (Denis)






