Penumpang Kapal PELNI KM Pangrango Rute Ambon-Saumlaki Diduga Bunuh Diri Terjun ke Laut

SAUMLAKI, FordataNews.com – Seorang pria paruh baya bernama Lukas Paskalis Floyembun (56), yang merupakan penumpang Kapal PELNI KM Pangrango rute Ambon-Saumlaki, diduga melakukan aksi bunuh diri dengan terjun ke laut pada hari Kamis (8/1/2026).

Dugaan tersebut semakin menguat setelah ditemukannya sepucuk surat tangan yang dititipkan korban kepada sesama penumpang sebelum kejadian.

Peristiwa Terjadi Sebelum Kapal Sandar di Saumlaki

Nakhoda KM Pangrango, R. Sentot Adiwibowo, didampingi Mualim I Okky A. M. Samodra, menjelaskan bahwa peristiwa diketahui sekitar satu jam sebelum kapal akan sandar di Pelabuhan Yos Soedarso Saumlaki, saat kapal memasuki perairan Tanjung Jasi.

“Kami menerima laporan awal dari petugas keamanan kapal, yang mendapatkan informasi dari seorang penumpang bernama Alowisius bahwa ada penumpang yang terlihat terjun dari atas kapal ke laut,” ujar Kapten Sentot.

Setelah menerima laporan, pihak kapal langsung melakukan olah gerak pencarian di sekitar lokasi yang diduga menjadi tempat korban terlihat oleh saksi.

Upaya Pencarian Dibatalkan Karena Kondisi Laut yang Sulit

Upaya pencarian dilakukan sebanyak tiga kali putaran dengan rentang waktu pukul 18.30 hingga 19.50 WIT. Namun, kondisi laut yang bergelombang serta cuaca yang mulai gelap menyulitkan proses pencarian, meskipun kapal telah mengerahkan lampu sorot dan menyiapkan pelampung.

“Jarak titik korban terlihat oleh saksi sekitar 500 meter dari posisi kapal. Namun korban tak kunjung ditemukan hingga pencarian dihentikan,” jelas Kapten Sentot.

Karena hasil pencarian nihil, pihak kapal kemudian melaporkan kejadian tersebut kepada Kantor Otoritas Pelabuhan (Syahbandar) Saumlaki untuk penanganan lebih lanjut.

Surat Tangan Korban Berisi Pesan untuk Keluarga

Dugaan bahwa korban sengaja mengakhiri hidupnya semakin kuat setelah adanya pengakuan saksi dan penemuan surat tangan yang dititipkan kepada sesama penumpang.

Surat tersebut ditulis di selembar kertas lusuh di sisi depan dan belakangnya, berisi pesan pribadi untuk keluarga.

Dalam surat itu, korban menitipkan pesan kepada anaknya, Sanny, terkait sejumlah barang milik yang dititipkan kepada Alfa Metanfanuan.

Korban juga mengingatkan tentang handphone beserta barang lainnya yang dititipkan kepada Manu Salwey, warga Desa Wowonda.

“HP di Bapa Manu Salwey orang Wowonda yang pak dengan Bapa pu surat-surat yang nanti kasih ke Pastor Paroki itu. Jadi nanti minta kembali..!!!”, demikian isi pesan korban.

Selain itu, korban menuliskan pesan terakhir kepada istrinya: “Ma, kalau ingat Bapa, hambur bunga saja ke laut.”

Pada lembar belakang surat, korban juga merinci secara detail barang-barang yang dititipkan kepada sejumlah pihak.

Baca Juga :

Temuan Kerangka Manusia Gegerkan Wowonda, Polisi Curigai Ada Jejak Kejahatan

Temuan Kerangka Manusia Gegerkan Wowonda, Polisi Curigai Ada Jejak Kejahatan

Hingga berita ini diturunkan, korban masih dalam pencarian dan pihak berwenang terus berkoordinasi untuk penanganan lanjutan atas insiden tersebut. (*)