Ambon,Fordatanews.com_ Keajaiban bawah laut Maluku Barat Daya (MBD), Provinsi Maluku berhasil diungkapkan oleh Tim peneliti dari World Wide Fund for Nature (WWF) Indonesia.
Dalam ekspedisinya di Pulau Romang dan Pulau Damer, Maluku Barat Daya, pada 3 Oktober sampai 3 November 2025, ditemukan 32 ekor Dugong.
Sekawanan dugong itu ditemukan dalam area seluas 25,7 hektar di sekitar Kawasan Konservasi Romang.
Temuan langka ini menjadikan kawasan konservasi laut tersebut menjadi lokasi dengan populasi dugong terbanyak yang pernah tercatat di Indonesia atau bahkan di Asia Tenggara sekaligus menjadi tonggak penting bagi konservasi dugong.
Catatan yang sebanding hanya terdapat di Thailand dengan 23 individu.
”Jadi mungkin juga terbanyak di Asia Tenggara. Dugaan kami ini dugong residen (bukan tengah bermigrasi), makanya ini jadi penemuan besar karena sangat sulit mendapatkan dugong dengan jumlah sebanyak itu. Biasanya hanya dua sampai lima, tidak pernah agregasi yang banyak dalam satu lokasi,” kata Hafizh Adyas, Senior Project Manager Yayasan WWF Indonesia di Jakarta, Kamis (5/2/2026) dilansir dari Kompas.
LESTARI KARENA KUALITAS PERAIRAN
Hafizh mengungkapkan, mamalia dengan nama ilmiah Dugong dugon ini masih lestari hidup berkawanan di sana karena kualitas perairan Maluku Barat Daya masih relatif terjaga.
Kawasan laut ini mampu memasok nutrisi bagi spesies kunci hingga menjadi rumah yang nyaman untuk sejumlah biota.
Keajaiban ini sedang dipertaruhkan oleh ancaman nyata praktik penangkapan ikan yang merusak dan sampah plastik.
Para peneliti telah mencatat ekosistem lamun yang menjadi rumah dugong berada dalam kondisi sangat baik dengan tutupan di atas 50 persen.
Tim ekspedisi juga berhasil menemukan sembilan dari total 14 jenis lamun yang tercatat ada di Indonesia ada di perairan ini, termasuk jenis lamun unik, yakni Thalassodendron ciliatum.
Selain dugong, ekspedisi ini juga mencatat lebih dari 200 spesies dilindungi dan terancam punah, seperti hiu martil (1 individu), paus orca (4 individu), puluhan hiu jenis lain, berbagai jenis penyu, hingga lumba-lumba yang lebih dari 100 individu.
”Mereka ini spesies kunci, menjaga spesies ini ekosistem yang lain akan terjaga, jadi kita jaga dugong sama dengan menjaga padang lamun, terumbu karang yang menjadi rumah ikannya juga terjaga,” ujarnya.
PERAN VITAL TRADISI SASI DAN LARANGAN ADAT
Ekspedisi ini juga menyoroti peran vital masyarakat adat Maluku Barat Daya yang masih memegang teguh prinsip keberlanjutan melalui kearifan lokal. Di Pulau Romang dan Damer, tradisi sasi serta larangan adat (pemali) terhadap perburuan spesies tertentu menjadi pilar utama yang menjaga keseimbangan ekosistem sejak zaman nenek moyang.
”Kita akan coba menjadi jembatan agar pengetahuan lokal ini bisa menjadi kebijakan formal. Tentunya kita perkuat juga kelompok masyarakat di sana agar menjadi pelindung dugong yang baik,” tutur Hafizh.
Pejabat Sementara Direktur Program Kelautan dan Perikanan Yayasan WWF Indonesia Candhika Yusuf menambahkan, hasil ekspedisi ini mampu menunjukkan bahwa Maluku Barat Daya memiliki pulau-pulau kecil yang dikelilingi perairan yang masih terjaga sejak zaman leluhur.
Pihaknya menyaksikan bagaimana terumbu karang di sana tetap sehat dan tangguh di saat banyak wilayah lain mengalami pemutihan.
”Kita menemukan habitat terbesar dugong. Namun, keajaiban ini sedang dipertaruhkan oleh ancaman nyata praktik penangkapan ikan yang merusak oleh pihak luar, serta tidak lepas dari isu sampah plastik dan ghost net. Kita harus berkolaborasi memperkuat pengawasan berbasis masyarakat melalui pokmaswas agar kekayaan ini tidak hilang,” tuturnya.
KONSERVASI-EKONOMI BIRU
Pemerintah telah menetapkan kawasan ini sebagai Kawasan Konservasi melalui Keputusan Menteri Kelautan dan Perikanan Nomor 3 Tahun 2022. Kabupaten Maluku Barat Daya juga berkontribusi 1,3 juta hektar atau 4 persen dari total 32,5 juta hektar target kawasan konservasi perairan di Indonesia.
Direktur Jenderal Pengelolaan Kelautan di Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) Koswara menilai, Ekspedisi Romang-Damer 2025 yang juga berkolaborasi dengan pemerintah pusat dan daerah ini menjadi kontribusi penting dalam mendukung pengambilan keputusan, baik di tingkat pusat maupun daerah.
KKP terus mendorong pengelolaan kawasan konservasi perairan yang berbasis data ilmiah, melibatkan masyarakat sebagai aktor utama, serta memberikan manfaat nyata bagi keberlanjutan sumber daya dan ekonomi lokal, sejalan dengan implementasi ekonomi biru.
Lima kebijakan ekonomi biru yang menjadi fokus utama KKP itu adalah perluasan kawasan konservasi, penangkapan ikan terukur berbasis kuota, pengembangan budidaya berkelanjutan (laut, pesisir, darat), pengawasan pesisir dan pulau kecil, serta pembersihan sampah plastik di laut. Kebijakan ini bertujuan menyeimbangkan ekologi dan ekonomi.
Koswara mengungkapkan, saat ini pemerintah sudah menetapkan 30,9 juta hektar kawasan konservasi. Ini merupakan bagian dari rencana pemerintah untuk mencapai 30 persen wilayah kawasan konservasi di Indonesia sebesar 97,5 juta hektar di tahun 2045.
”Temuan ini tentunya memiliki nilai ilmiah yang sangat tinggi dan menegaskan pentingnya Romang dan Damer sebagai kawasan dengan fungsi ekologis yang sangat strategis,” kata Koswara(*).






