banner 728x250

Gerard Wakanno Membaca Masa Depan Maluku Dalam Trend Pemberitaan Media Online

Wacana Publik Minim Evaluasi Dan Inovasi.

Ambon,Fordatanews.com._ Tokoh muda Seram Bagian Barat dalam pengamatannya terhadap pemberitaan beberapa media online di Maluku sepanjang Apri-November 2025, menemukan fakta krusial.

Fakta itu dirangkumnya dalam sebuah Statistik Pemberitaan atau Proyeksi Tren April – November 2025.

banner 325x300

Berdasarkan rilis yang diterima pada Kamis,(27/11/2025), maka berikut ini adalah penyajian datanya:

• 70% Politik. Porsi pemberitaan politik mendominasi hampir seluruh platform media online. Pemberitaan tidak hanya pada berita, tetapi juga opini dan advertorial yang terselubung.

• 15% Kritik Merusak (Hoaks, Ujaran Kebencian, Black Campaign, Serangan Personal). Angka ini mengalami peningkatan signifikan dari periode biasa, terkonsentrasi di kolom komentar, media sosial yang diangkat menjadi berita, dan opini-opini partisan.

• 10% Kritik Membangun. Terdesak oleh narasi politik yang lebih sensasional. Kritik membangun masih ada, terutama dari Ambonkita.com yang sesekali menampilkan analisis kebijakan, namun tenggelam oleh banjir informasi politik yang bersifat serang-menyerang.

• 5% Keberhasilan Pembangunan dan Inovasi Memajukan Ekonomi Daerah. Hanya sekitar 5% dari pemberitaan yang secara genuine menyoroti inovasi dan keberhasilan pembangunan. Pemberitaan yang ada pun sering kali bermotif politik sebagai bentuk kampanye positif dari tokoh politik atau hanya sebagai “pengisi waktu” di sela-sela hiruk-pikuk kesibukan.

Data pada periode ini tidak lagi sekadar mencerminkan ketimpangan, tetapi sudah pada tahap kegagalan sistemik media dalam menjalankan fungsi mendidik dan mengawal pembangunan berkelanjutan.

Media online Maluku, dalam periode krusial ini, telah bertransformasi menjadi mesin propaganda dan amplifier konflik ketimbang penyampai informasi yang mencerdaskan.

–Baca Juga : Tiada Yang Mustahil Bagi Lidah Abdullah Vanath

Dampak yang lebih dalam dan berbahaya yaitu pembunuhan karakter atas nalar pembangunan dimana ruang publik dibajak oleh isu-isu sektarian, popularitas individu, dan serangan personal.

Akibatnya, wacana tentang tata kelola pulau, inovasi industri perikanan, pengentasan kemiskinan struktural, dan strategis lainnya yang seharusnya menjadi bahan debat publik berkualitas nyaris tidak terdengar.

Proporsi kritik merusak (15%) yang lebih tinggi daripada kritik membangun (10%) pada periode yang seharusnya penuh dengan debat ide, adalah sebuah kemunduran berdemokrasi.

Media memberikan panggung bagi hal-hal yang memecah belah, alih-alih menjadi moderator untuk pertukaran gagasan yang sehat.

Pemberitaan media online Maluku tidak lagi menjadi penjaga demokrasi, melainkan aktor yang memperparah politik identitas dan transaksi.

Jika tren ini tidak diintervensi, maka wacana publik tidak dibangun di atas dasar evaluasi dan inovasi, melainkan pada kekuatan kelompok. Saatnya ada keberanian dari insan pers untuk memutus siklus ini dan kembali kepada jiwa jurnalisme yang memuliakan nalar dan kesejahteraan publik. (*).

 

 

banner 325x300