Ambon,Fordatanews.com _ Dia pernah jujur mengakui kepada majalah sportif bahwa menjadi seorang pesepakbola profesional adalah anugerah.
Pengakuan lelaki dengan postur 165 cm itu tentu saja punya alasan yang kuat.
Ely kecil seperti pada umumnya anak-anak Maluku, tak pernah jauh dari bola di kakinya.
Dia nyaris tiap hari menghabiskan seluruh sorenya bermain bola tanpa alas kaki di Lapangan Pattimura, Namlea.Kabupaten Buru.
Lapangan berpasir, angin laut, dan suasana sederhana menjadi saksi pertama kegemarannya pada sepak bola.
Kala itu, tak ada akademi, tanpa pelatih mumpuni, hanya permainan kampung yang dilakoni dengan gembira.
Namun di balik kesederhanaan itu, tersimpan bakat besar yang mulai menarik perhatian. Hingga pada suatu sore, penonton tak dikenal di pinggir lapangan diam-diam memperhatikannya.
Sosok itu adalah dr Zulkifli Amin, dokter asal Jakarta yang sedang berada di Namlea untuk mengikuti Program Wajib Kerja Studi (WKS).
Dia lalu bertanya kepada warga, “Siapa anak itu?”
Dari pertanyaan itulah, “pintu” baru bagi Elly Idris terbuka. Sang dokter kemudian menawarkan Elly kesempatan pergi ke Jakarta, menapaki jalur pembinaan profesional.
Tanpa banyak pertimbangan, Elly mengiyakan. “Saya mau. Ini hal baru dan menantang,” ujarnya dilansir dari Skor.id pada 30 November 2020.
Elly Idris ke Jakarta naik kapal selama seminggu dari kampung halamannya.
“Ketika itu, saya naik kapal yang isinya sebagian besar tahanan politik (tapol) yang masa hukumannya mau habis. Mungkin saya satu-satunya penumpang yang bukan tapol di kapal itu,” tuturnya.
Dalam pengakuannya kepada majalah sportif. Eli juga mengisahkan Akhir tahun 1979, Waktu Elly duduk di bangku kelas III SMP di Pulau Buru, ada seorang guru Matematika, bernama Abdul Gani Elly yang berkenan menjadi ayah angkatnya.
Ayah angkatnya ini kemudian memperkenalkannya dengan Dokter Zulkifli Amin yang sangat mengagumi bakat Elly Idris kala bermain sepak bola.
Dokter Zulkifly Amin sendiri datang ke Pulau Buru untuk program Wajib Kerja Studi (WKS).
Singkat cerita, Elly Idris pun diboyong oleh Dokter Zulkifli Amin ini ke Jakarta. Tiba di Ibukota, Elly Idris di titipkan oleh Dokter Julkifli pada Klub Jayakarta untuk diasah lebih lanjut.
GELANDANG LINCAH YANG MENJELMA JADI NYAWA PERMAINAN TIM
Elly Idris awalnya masuk tim junior Jayakarta pada 1980, sekitar sepuluh bulan kemudian, dia naik kelas masuk tim utama kesebelasan yang ikut kompetisi Galatama ini.
Lelaki kelahiran Sanana 4 November 1962 ini pun jadi bagian klub itu kala menembus posisi runner-up Galatama musim 1980-1982.
Elly meraih kesuksesan besar saat berseragam Yanita Utama. Di sana ia sukses menjuarai Galatama pada musim 1983-1984 dan 1984.

Penampilan impresifnya membawanya masuk radar tim nasional. Elly kemudian dipanggil untuk memperkuat timnas proyeksi Pra-Piala Dunia dan SEA Games.
Setelah Yanita Utama bubar, Elly melanjutkan kesuksesannya bersama Kramayudha Tiga Berlian.klub raksasa Galatama milik Sjarnoebi Said, bos otomotif era itu.
Di sanalah ia meraih gelar juara Galatama tiga musim beruntun, yaitu pada 1985, 1986, dan 1987.

Kesuksesan di level klub dibawa Elly saat memperkuat timnas Indonesia era 1980-an mengikuti jejak dua seniornya asal Pulau Buru John Lesnussa dan Salem Alkatiri.
Elly pertama kali dipanggil timnas pada 1985. Saat itu timnas masih ditangani Sinyoe Aliandoe. Elly masuk pemusatan latihan timnas untuk Pra-Piala Dunia 1986.
Pada edisi tersebut, Indonesia nyaris lolos Piala Dunia. Korea Selatan menjegal langkah Indonesia pada putaran kedua dalam laga yang berlangsung kandang dan tandang. Indonesia takluk 1-6 secara agregat. Korea Selatan kemudian maju menghadapi Jepang pada putaran akhir dan menang sehingga lolos ke Piala Dunia.
Capaian terbaik Elly saat membela tim ”Garuda” tercipta pada Asian Games 1986 di Seoul, Kore Selatan. Timnas saat itu dilatih Bertje Matulapelwa dan berhasil melaju hingga semifinal. Indonesia lolos ke semifinal seusai mengakhiri perlawanan Uni Emirat Arab lewat drama adu penalti.
Saking sentralnya peran Elly di timnas, Bertje sempat dibuat pusing saat dia cedera. Elly tergolong gelandang yang rajin membantu serangan, tetapi juga disiplin menutup ruang saat transisi negatif dari menyerang ke bertahan.
Kelebihan itu tidak dimiliki rekan-rekan seangkatan Elly, seperti Louis Mahodin, Patar Tambunan, atau Frans Sinatra.
Elly terakhir kali membela Indonesia pada SEA Games 1993. Ia kemudian gantung sepatu pada usia 34 tahun ketika membela Persita Tangerang.
Setelah melanglang buana sebagai pemain,

Elly melanjutkan dedikasinya pada sepak bola Indonesia dengan menjadi pelatih.
JADI PELATIH DAN TERUS BERDEDIKASI BAGI SEPAKBOLA HINGGA AJAL TIBA
Karier kepelatihannya dimulai dengan menangani Persibom Bolaang Mongondow pada 2002 hingga 2009. Dari Persibom, Elly pindah ke Persita (2009-2013 dan 2017-2018).
Klub terakhir yang ditangani Elly ialah Persitara Jakarta Utara pada 2021 hingga 2022 saat berkompetisi di Liga 3.
Selain melatih di level klub profesional, Elly juga tidak sungkan menularkan ilmunya pada level akar rumput. Ia tercatat pernah membuka Akademi Sepak Bola Indonesia atau Indonesia Soccer Academy di Jakarta pada 2009.
Terakhir, Elly terlihat aktif melatih sekolah sepak bola (SSB) Pelita Jaya, salah satu peserta Liga Kompas U-14 musim 2024-2025. Di usianya yang sudah senja, Elly tetap tidak bisa meninggalkan sepak bola.
”Dari dulu sudah main bola, ya, sampai sekarang tetap sehari-hari di sepak bola,” kata Elly dilansir dari (Kompas.id, 20/2/2025).
Meski sudah tidak aktif bermain, Elly tetap mencoba berkontribusi terhadap sepak bola Indonesia hingga akhir hayatnya.
Meski sempat dirawat di RS Cinta Kasih Ciputat, Tangerang Selatan. Elly Idris akhirnya berpulang pada Kamis (12/2/2026) dalam usia 63 tahun.
Menurut keterangan dari pihak keluarga, Elly menderita pembengkakan ginjal. Sebelum mengembuskan napas terakhir.
Selamat jalan sang legenda, selamat beristirahat dalam damai Elly Idris, Anugerah Dari Pulau Buru Di Sepanjang Jalan Kenangan Sepak Bola Indonesia.






