AMBON, FordataNews.com – Kelangkaan Bahan Bakar Minyak (BBM) di Kota Ambon kian memicu keresahan masyarakat.
Antrean panjang kendaraan terlihat mengular di sejumlah SPBU sejak beberapa hari terakhir, sementara masyarakat mulai mempertanyakan kepastian distribusi di tengah klaim “stok aman” dari Pertamina.
Pantauan di lapangan, antrean kendaraan roda dua dan roda empat tampak memadati SPBU sejak pagi hingga malam hari. Bahkan, di beberapa titik, antrean mencapai ratusan meter dan memakan waktu hingga berjam-jam.
Kondisi ini berdampak langsung pada aktivitas warga. Para pengemudi ojek, sopir angkutan kota, hingga pelaku usaha kecil mengaku pendapatan mereka menurun drastis karena lebih banyak waktu dihabiskan untuk mengantre BBM.
“Beta bisa tunggu sampai tiga jam. Sudah antre panjang, tapi begitu mau tiba giliran, BBM habis di depan mata. Ini sangat menyiksa,” ungkap Marcello yang merupakan seorang pengemudi motor berstatus mahasiswa.
Keluhan serupa datang dari warga lain yang menilai situasi ini menunjukkan imbas dari konflik yang berlangsung di Timur Tengah sehingga membawa dampak serius dalam distribusi BBM.
“Ini kemungkinan dampak dari peperangan yang sedang memanas di Timur Tengah,“ ketus warga lainnya.
Minimnya informasi yang transparan di awal krisis turut memicu keresahan dan spekulasi di tengah masyarakat.
Di tengah kondisi tersebut, Pertamina Patra Niaga melalui siaran persnya menegaskan bahwa stok BBM di Ambon dan Maluku secara umum dalam kondisi aman.
Pjs. Area Manager Communication, Relations & CSR Pertamina Patra Niaga Regional Papua Maluku, Bramantyo Rahmadi, menyatakan bahwa pasokan BBM tetap terjaga, termasuk di Integrated Terminal Wayame sebagai terminal utama distribusi di Ambon.
“Stok di Integrated Terminal Wayame dalam kondisi aman, begitu juga Fuel Terminal lain di Maluku. Kapal suplai juga masih sandar sesuai jadwal untuk mengisi kembali stok,” jelas Bramantyo dalam keterangan tertulis, Senin (30/3/2026).
Pertamina juga mengakui adanya lonjakan konsumsi masyarakat seiring berakhirnya libur Idul Fitri dan dimulainya kembali aktivitas perkantoran serta sekolah.
Namun, mereka menegaskan lonjakan antrean di SPBU tidak berkorelasi dengan kekosongan stok.
“Kami terus memantau stok di SPBU dan melakukan percepatan distribusi dari Fuel Terminal. Lonjakan ini bukan karena stok kosong, stok kami pastikan tetap aman,” tambahnya.
Meski demikian, fakta di lapangan menunjukkan kondisi yang berbeda. Sejumlah SPBU terlihat kewalahan melayani lonjakan permintaan.
Petugas harus membatasi pengisian dan mengatur antrean ketat untuk menghindari kericuhan, bahkan aparat kepolisian turut turun tangan di beberapa lokasi.
Pertamina pun mengimbau masyarakat untuk tidak melakukan pembelian berlebihan atau panic buying, karena hal tersebut justru dapat mengganggu sistem distribusi.
Namun bagi warga, persoalannya bukan sekadar imbauan. Antrean panjang yang terjadi setiap hari dinilai sebagai bukti bahwa distribusi belum berjalan optimal.
“Kalau memang stok aman, kenapa tiap hari harus antre panjang begini?” keluh seorang warga lainnya.
Situasi ini memunculkan pertanyaan besar tentang efektivitas distribusi BBM di wilayah kepulauan seperti Maluku.
Publik mendesak adanya langkah konkret dan transparansi penuh dari pihak terkait, agar persoalan ini tidak terus berulang.
Baca Juga :
SPBU Reguler 8497402 di Sifnana Resmi Beroperasi, Dorong Akses Energi dan Ekonomi Tanimbar
SPBU Reguler 8497402 di Sifnana Resmi Beroperasi, Dorong Akses Energi dan Ekonomi Tanimbar
Jika tidak segera diatasi secara serius, kelangkaan yang dirasakan masyarakat, meski dibantah sebagai “stok aman”, berpotensi perburuk kondisi ekonomi warga dan memicu ketidakpercayaan publik terhadap pengelolaan energi di daerah. (*)







