Ambon  

Natal Tanpa Jamuan, Uskup Diosis Amboina Alihkan Dana untuk Kemanusiaan

AMBON, FordataNews.com – Menjelang perayaan Natal 2025 dan Tahun Baru 2026, Uskup Diosis Amboina, Monseigneur (Mgr) Seno Ngutra, menyampaikan pesan mendalam tentang kemanusiaan, solidaritas, dan peran moral wartawan di tengah situasi bangsa yang sedang tidak baik-baik saja.

Dalam pertemuan bersama insan pers di Kota Ambon, Selasa (23/12/2025), Mgr. Seno Ngutra menegaskan bahwa profesi wartawan memiliki nilai luhur, bahkan berakar kuat dalam kisah Natal itu sendiri.

“Kalau kita membaca kisah Natal, tugas pewarta itu sudah dimulai sejak Malaikat Gabriel diutus membawa kabar keselamatan. Ia menyampaikan kabar sukacita. Di situlah dasar biblis tugas wartawan,” ujar Uskup.

Namun, menurutnya, kabar sukacita bukan sekadar puja-puji. Wartawan dituntut menghadirkan kebenaran dan keberpihakan pada nilai kemanusiaan.

“Yang benar harus diberitakan sebagai benar. Yang salah harus dikoreksi. Di situ letak tanggung jawab moral seorang wartawan,” tegasnya.

Pada momen tersebut, Uskup juga secara terbuka menyampaikan permohonan maaf kepada Gubernur Maluku, Wali Kota Ambon, pejabat pemerintahan, serta tokoh agama karena dirinya memutuskan membatalkan agenda open house Natal yang selama ini menjadi tradisi.

Keputusan itu, kata Uskup Diosis Amboina ini, bukan tanpa pertimbangan. Pertama, kondisi keuangan negara dan daerah yang terdampak kebijakan efisiensi anggaran, yang berimbas langsung pada kehidupan masyarakat kecil.

“Pemerintah tidak sedang baik-baik saja, dan dampaknya dirasakan masyarakat. Dalam situasi seperti ini, saya tidak tega menghabiskan banyak dana hanya untuk makan, minum, dan seremoni,” katanya.

Alasan kedua jauh lebih emosional, penderitaan saudara-saudara sebangsa yang dilanda banjir besar di sejumlah wilayah Sumatera, termasuk Aceh dan Sibolga.

“Saya melihat video wartawan PNM yang menangis saat meliput warga korban banjir. Itu sangat menggugah. Mereka untuk makan saja susah, sementara kita di sini mau pesta. Secara kemanusiaan, itu tidak adil,” ucapnya dengan nada haru.

Menurut Uskup, rasa kemanusiaan tidak mengenal sekat agama maupun jarak geografis.

“Walaupun kita jauh, penderitaan mereka adalah penderitaan kita juga. Karena kita manusia,” katanya.

Sebagai bentuk nyata solidaritas, Uskup memilih membatalkan open house dan mengalihkan anggaran untuk kegiatan sosial dan gerejawi. Dana tersebut akan disumbangkan kepada Gereja Katolik dan disalurkan langsung kepada masyarakat kurang mampu.

Mulai sore hari, Uskup akan turun langsung membagikan sembako kepada umat di delapan titik, mulai dari wilayah Benteng hingga Laha. Setiap titik menyasar sekitar 10 keluarga miskin atau tidak mampu.

“Saya ingin berjabat tangan langsung dengan mereka, melihat mata mereka, dan mendengar cerita mereka,” ujarnya.

Tak berhenti di situ, pada 24 Desember pagi pukul 10.00 WIT, Uskup dijadwalkan merayakan Natal bersama masyarakat yang tinggal di kawasan hutan, kelompok yang selama ini jarang tersentuh perayaan besar.

Malam Natal pun akan dijalani dengan cara berbeda. Jika selama ini Misa dipimpin di Gereja Katedral, tahun ini ia memilih gereja kecil di wilayah paling ujung.

“Gereja besar sudah sering. Tahun ini saya ingin Natal bersama umat yang berada di pinggiran,” katanya.

Pada malam 25 Desember, ia menjadwalkan akan mengundang Umat Katolik dari delapan paroki, terutama mereka yang selama ini merasa terasing atau jarang mengikuti ibadat, untuk makan malam sederhana bersama.

“Bahkan mereka yang sudah lama menjauh dari gereja, saya bilang, datang saja. Natal itu tentang pulang dan dirangkul,” tuturnya.

Uskup berharap langkah sederhana ini dapat mengingatkan semua pihak bahwa esensi Natal bukanlah kemewahan, melainkan solidaritas, empati, dan keberanian untuk berdiri bersama mereka yang menderita.

Baca Juga :

Uskup Monseigneur Seno Ngutra Disambut Meriah di Kelaan Saat Kunjungan Kanonik ke Fordata

Uskup Monseigneur Seno Ngutra Disambut Meriah di Kelaan Saat Kunjungan Kanonik ke Fordata

“Natal akan kehilangan maknanya jika kita merayakannya tanpa memikirkan mereka yang lapar, terluka, dan terpinggirkan,” pungkas Uskup berdarah adat Larvul Ngabal ini. (*)