Kapita Hibualamo Hein Namotemo Dalam Kenangan (Orbituari) 

Alumni Unpatti Ambon 1982, Birokrat Yang Menjelma Jadi Idola Masyarakat Maluku Utara.

Ambon,Fordatanews.com._ Di belahan utara tanah Halmahera, awal tahun 2003, Hein Namotemo hadir di kantor Camat Tobelo.

Entah saat itu, Ia masih jadi Camat Tobelo atau tidak. tapi selama beberapa waktu jadi Camat Tobelo dia dikenal memimpin dengan hati dan penuh ketegasan.

Kala itu Hein bicara tegas soal kedamaian Tobelo.

Ini terakhir kali Kita tanya pa ngoni, sebetulnya ngoni mau aman atau mau kaco turus, bicara terus terang skali dihadapan bapa-bapa dari Ternate ini“.

Kalimat itu dia ucapkan bagi masyarakat yang datang mengikuti pertemuan dengannya bersama petinggi Maluku Utara yang datang dari Ternate di Kantor Camat Tobelo.

Kata-katanya di Kantor Camat Tobelo lebih dari 22 tahun silam itu, tentu bukan pilihan ataupun tujuan semata, namun satu niat tulus seorang pemimpin untuk mendamaikan wilayahnya dan segera bangkit berbenah dari puing-puing konflik.

Kala itu, Tobelo yang mulai pulih dari konflik sosial 1999, sempat dilanda instabilitas akibat insiden kematian tokoh pemuda Ramses (Ses) Daga.

Akhirnya dalam pertemuan yang turut dihadiri Sultan Ternate, mendiang Mudaffar Syah itu, disepakati oleh dua komunitas orang basudara untuk hidup aman berdampingan.

Selain itu disepakati pula agar BKO Brimob asal Makasar yang ditugaskan di pos desa Gorua dan Popilo harus angkat kaki.

Tobelo pun tentram, dan Hein Namotemo mulai berkibar namanya dihati masyarakat sebagai figur pemberani dan cinta damai. Juru damai Bumi Hibualamo.

DARI JURU DAMAI KONFLIK SOSIAL KE PENGGALI DAN PELESTARI KEBUDAYAAN TOBELO-GALELA

Tahun 2001, Alumnus Universitas Pattimura Ambon 1982 ini sudah mulai memimpin bekas kecamatan termaju se Provinsi Maluku. Tahun-tahun penuh “Vivere Pirocoloso” dilaluinya dengan tabah untuk mendamaikan Tobelo.

Tahun 2003, Halmahera Utara mekar jadi Kabupaten. Tobelo jadi Ibukotanya. tapi Hein terlanjur menempati relung mayoritas penghuni tanah itu sebagai Camat yang hebat, tegas, cinta damai.

Dengan bermodalkan nama besarnya sebagai Juru damai konflik sosial itulah, Hein berani meninggalkan karir birokrasinya yang sudah eselon II untuk maju ke medan politik pilkada 2005.

Berpasangan dengan Arifin Neka, mereka melangkah perkasa mengungguli atasan Hein di Birokrasi, Bekas Carataker Bupati Halut Drs Djidon Hangewa.

Mantan Camat Tobelo itupun naik status jadi Kepala Daerah dengan memimpin Halmahera Utara sebagai Bupati.

Ditangannya, Tobelo dan Halmahera Utara disulap. Tak sekedar pembangunan fisik. Aspek Spritualitas dan adat budaya turut disentuh olehnya.

Hein punya konsep yang utuh tentang adat budaya Tobelo-Galela (Togale),

Dia ingin memberi corak dominan pada semua sendi kehidupan pemerintahan dan masyarakat dengan nilai adat pusaka tanah moyangnya.

“Saya yakin kebenaran dan kebesaran adat sebagai alat perekat” ucapnya kepada awak media 2012 silam.

Usai dilantik pertama kali sebagai Bupati pada 12 Agustus 2005 , ia kemudian minta dilantik secara adat pada 15 Agustus 2005. Dia ingin dikukuhkan secara Budaya.

” Pelantikan Bupati di pemerintahan itu hanya dihadiri pejabat. Padahal yang pilih saya seluruh rakyat. Saya dikukuhkan secara budaya” Ungkapnya saat Kongres Aliansi Masyarakat Adat Nusantara (Aman) ke-4 yang dilaksanakan 19-25 April 2012.

Tak hanya kompleks perkantoran yang dibangun olehnya, Rumah adat bersama pranata penunjang eksistensi adat pun turut dihadirkan olehnya selama 2 periode memimpin Halmahera Utara, misalnya tiap hari Rabu harus mengenakan pakaian adat saat berkantor di semua instansi.

Tangannya pula yang meneken rekomendasi untuk memekarkan wilayah Morotai jadi daerah otonomi baru di Maluku Utara pada 2008.

Hein memang menggandrungi adat istiadat dan bercita-cita melindungi masyarakat adat, tagal itu ia aktif terlibat dalam Aliansi Masyarakat Adat Nusantara (AMAN).

Bahkan Tobelo pernah jadi tuan rumah Kongres Aman ke 4 tahun 2012 silam, saat Hein jadi Bupati periode ke dua.

KITA TARA MAU JADI GUBERNUR DENGAN CARA BAFOYA

Dia pernah punya mimpi terbentuknya Provinsi Halmahera Raya, sayang Ibu Kota Maluku Utara buru-buru dipindahkan dari Ternate ke Sofifi demi menangkal alasan rentan kendali pemerintahan.

Hein memang pemberani, dalam kancah politik Maluku Utara kiprahnya bukan kaleng-kaleng. Dia berkali-kali berkontestasi dari pilgub Malut hingga Calon Legislatif DPR RI.

Tahun 2013, saat masih menjabat Bupati Halut, dia maju dari jalur independen berpasangan dengan Malik Ibrahim. Sayang perlawanannya kandas di Mahkamah Konstitusi RI.

Wartawan senior yang juga penyair Maluku Utara Dino Umahuk pernah menulis di laman Facebooknya bahwa Hein menolak menggunakan cara-cara kotor untuk mendongkrak perolehan suaranya di Halmahera Utara dalam pilkada Maluku Utara 2013. Padahal kesempatan itu terbuka lebar mengingat kapasitasnya yang tengah berkuasa sebagai Bupati Halut.

” Malam itu di Tobelo, puluhan orang berkumpul di sebuah aula terbuka sejak lepas maghrib hingga dini hari. kami mengadakan rapat, sekaligus terus mengupdate data perolehan suara yang masuk. ketika waktu telah menunjukkan pukul 02.00 WIT dini hari. beliau Hein Namotemo meminta rapat diskorsing. Suara Halmahera Utara sudah tidak bergerak. kami terus melakukan berbagai upaya agar suara dari HALUT sebagai basis beliau bisa bertambah. Bahkan sampai mendesak beliau berulangkali untuk menggunakan tangannya sebagai bupati.

Keringat bercucuran, mata nanar, semua yang hadir gelisah. skenario telah dimainkan, jurus-jurus telah difungsikan. keputusannya ada di tangan beliau. ya atau tidak.

saya tersandar di pokok pohon pala yang tumbuh tidak jauh dari situ sambil mengisap rokok dengan gelisah. tiba-tiba terdengar suara beliau. “mari tong lanjut”.

Ketika bung Ferry Patiasina membuka kembali rapat, Hein Namotemo lalu berbicara dengan gayanya yang selalu memesona itu.

“Tamang-tamang samua, terima kasih banyak. torang pe upaya so maksimal. katorang pe perjuangan sudah sampai pada batasnya. jang bapaksa. so boleh suda. kita tara mau jadi gubernur deng cara bafoya rakyat. Bagaimana kita bisa pertanggungjawabkan di hadapan Tuhan semua kekuasaan yang kita dapa deng jalan menipu rakyat. Ya Allah.” Tulis Umahuk 2 Januari 2019 silam.

Saat Pileg 2019, ia bertarung menuju kursi DPR RI dapil Maluku Utara dari partai Perindo, sedangkan pada Pileg 2024 dengan menggunakan Partai Amanat Nasional (PAN) sebagai kendaraan politik, Namotemo kembali mencoba peruntungan menuju Senayan.

Sayangnya dalam dua kesempatan itu langkah lelaki kelahiran Tobelo 24 November 1959 ini kandas karena kekurangan dukungan suara untuk merebut jatah 3 kursi dari Maluku Utara.

HOTUU YEE – UNHENA DABILOHA

Bila peruntungan politik tak menaunginya saat mencoba menuju Senayan dalam pileg 2019 dan 2024. Maka di bidang pendidikan, nama Hein Namotemo menemukan keabadiannya lewat kehadiran Universitas Hein Namotemo (UNHENA) yang berdiri sejak 2016.

Saat ini Unhena yang terakreditasi Baik itu memiliki 2 Fakultas yakni Fakultas Sains Teknologi dan Kesehatan dengan 6 program studi S1. dan Fakultas Ilmu Sosial dan Kependidikan dengan 6 program studi S1. Total 12 program studi.

Bila pertengahan dekade 90 an, Mendiang Leonardo Colling Cs dalam Nanaku Group yang legendaris itu sudah mengibarkan nyanyian poco-poco ke seantero nusantara. Disana turut berkibar pula kidung Solina yang berbahasa Tobelo, ataupun Kidung Jojaro Tomi Seri

2 dekade kemudian, Saat Hein Namotemo sedang jadi Bupati Halmahera Utara, nyanyian Hotu Yee dan Dabiloha menghentak jagat kidung dan senandung lagu pop daerah bersama pelantunnya Leo Colling.

Kini Hein Namotemo sudah tiada dalam usia 66 tahun, ziarahnya tak sia-sia sebagai anak kandung Hibualamo.

Lidahnya memang tak lagi bisa memekikan Hotu Yee dengan garang, tapi semangatnya sudah mendarah daging kepada banyak orang diatas tanah itu.

Hein Namotemo pergi saat RUU Masyarakat Adat yang dia perjuangkan sudah masuk dalam Program Legislasi Nasional (Prolegnas) Prioritas tahun 2026

Selamat Jalan Kapita Hibualamo, Hotuu Yee!. (*)