Mengenang Kelompok Pohon Mangga, Suara Kritis Dari Sudut Kiri Baileo Oikumene

Cerdas, Kritis Dan Disegani Pada Masanya

Ambon,Fordatanews.com.-Ditengah semarak penyelenggaraan sidang Sinode Gereja Protestan Maluku (GPM) ke 39, 19-26 Oktober 2025 di Ambon. rasanya perlu ada sebuah refleksi dari perjalanan GPM yang hampir 1 abad ini.

Refleksi bersandar sepenuhnya pada realitas yang telah jadi kenangan dari nyaring suara-suara kritis dibawah rindang pohon mangga, sudut kiri Baileo Oikumene, Ambon.

Kelompok ini awalnya terbentuk secara alamiah dari kebiasaan kumpul-kumpul di bawah pohon mangga saat konflik sosial 19 Januari 1999 melanda Maluku.

Orang-orang yang berhimpun disini latar belakangnya tak main-main, Dari Birokrat, Politisi, Seniman, Akademisi, Guru, Pengusaha, Pengacara, Wartawan, aktivis LSM, OKP dan Mahasiswa hingga Pendeta GPM.

—Baca Juga : GMKI Mengabdi di Lembah Waetina

Dalam kenangan, dari jalur Birokrasi nama Donald Petta menjadi terkemuka disini, bekas sekretaris Dinas PUPR Maluku itu dikenang paling aktif semasa hidupnya.

Begitupun politisi-politisi Maluku terkemuka pada zamannya seperti Max Pentury, Nico Putileihalat, Everd Herman Kermite, John Jokohael hingga Ketua Fraksi Gerindra Maluku Suanty John Laipeny yang kala itu masih jadi karyawan Bank Indonesia.

Akademisi yang sering hadir diantaranya DR Dodie Siwabessy, Nick Rahalus, Alex Robert Tutuhatunewa serta Nataniel Elake.

Ada juga bekas ketua Kadin Maluku Daniel Sohilait, serta seniman yang dijuluki kamus lagu berjalan, Cale Marthinus.

CERDAS, KRITIS DAN DISEGANI

Kekritisan yang menyeruak dari pikiran cerdas kelompok pohon mangga ini bukan kaleng-kaleng.

Mereka aktif membahas berbagai persoalan yang mengemuka di masyarakat dari level lokal hingga nasional.

Pikiran kelompok ini sering jadi Headline surat kabar pada masa itu. Rata-rata bobotnya menghujam jantung kekuasaan.

Persoalan bergereja juga tak luput dari sasaran kritis kelompok ini. Maklum pendeta-pendeta GPM seperti Dicky Mailoa, Ates Werinussa, Chris Sahetapy, Pieter Leiwakabessy, Seles Hukunala, Riko Rikumahu dan kawan-kawan juga sering hadir dan melebur jadi satu dalam diskusi alot dibawah rindang pohon mangga.

DELEGASI DAN RESTU KELOMPOK POHON MANGGA

Bila ada perhelatan sidang MPL Sinode ataupun Sidang Sinode GPM maka kelompok pohon mangga juga berupaya agar delegasinya ikut forum konstitusional GPM itu.

Delegasi itu masuk dengan jalur resmi kepesertaan perwakilan klasis ataupun PB AMGPM dan sebagainya seperti diatur dalam mekanisme persidangan.

Tujuannya cuma satu yaitu pikiran-pikiran kritis buah pikir kelompok itu harus disampaikan secara resmi dalam forum menggunakan lidah sang delegasi.

Secara kualitas, kelompok ini pernah menjelma jadi kelompok elit kritis dari pelataran Gereja pusat Maranatha.

Beberapa orang bahkan pernah datang minta restu pada kelompok ini waktu mau mencalonkan diri sebagai ketua sinode GPM.

ASAP PUTIH VATIKAN

Dalam riwayatnya, Kelompok pohon mangga pun pernah mengusulkan agar pemilihan ketua Sinode GPM tidak perlu menggunakan demokrasi barat, satu delegasi satu suara.

Cukup bakar kertas dan tunggu asap putih membumbung tinggi dari cerobong asap yang di Maranatha layaknya pemilihan Sri Paus di Vatikan.

” Jadi nyong, kalo pake cara pilih Paus par pilih ketua Sinode maka dalam kompleks ini steril, Katong samua badiri di hotel Mutiara tunggu asap putih nae dari Maranatha. Seng pake lobi-lobi dan karantina peserta lai nyong, aman nyong.” kata Donald Petta suatu kali.

Tentunya sebelum prosesi bakar kertas  semua peserta sidang Sinode bergumul dalam doa,berpuasa, serta menaikan puji-pujian kepada Tuhan.

Setelah itu barulah dilakukan pemilihan calon dengan membakar kertas bertuliskan nama calon ketua Sinode GPM.

Usulan radikal ini memang belum sampai forum resmi GPM, tapi cukup menggema dipelataran kantor Sinode.

Tujuannya ialah mengikis habis dugaan praktek transaksional, serta pemurnian  pemimpin gereja yang betul-betul lahir dari cara ilahi.

CHRISTMAS CAROL

Oh iya, ini sudah bulan berakhiran ber di 2025 Masehi, tak lama lagi perayaan Natal akan tiba.

Dalam memori, Kelompok ini tak hanya sekedar jago menebar kritik yang menghujam jantung kekuasaan dari bawah rindang pohon mangga, mereka juga punya legacy entertaiment bernuansa kerohanian yang kini tinggal kenangan.

Asal tahu saja, ivent Chistmas Carol yang sempat dibuat pada beberapa waktu lalu di halaman Baileo Oikumene itu adalah hasil diskusi kelompok ini yang langsung diwujudnyatakan pada Desember 2011.

Anggarannya hasil patungan dari kantong pribadi mereka-mereka yang sering kumpul dibawah pohon mangga

Kebetulan waktu itu ada seniman Om Cale Marthinus, jadi urusan acara, musik hingga pementasan nyanyian bernuansa natal itu menjadi lancar bagai nyanyian Kidung Jemaat Hujan Berkat Kan Tercurah.

Dalam perkembangannya pada tahun ke 5 penyelenggaraan di 2016, setelah mendapatkan sentuhan langsung dari Pdt Jacky Manuputty acara ini telah jadi ajang pertunjukan pluralisme ala Maluku .

Gemerlap panggungnya tak hanya menyuguhkan nyanyian suara bariton Jhon Tanamal, merdu STAB Rehobot Youth Choirs ataupun Ebenhaezer Romance Choir.

Namun, Garing hentakan Hardrat Waringin Talake dan suara indah Nurul Toisuta pun ada dipanggung itu memuji Tuhan yang esa.

Beberapa tahun belakangan, acara saban Desember ini tak lagi digelar.

Pohon mangga tetap kokoh berdiri, tapi dibawah rindangnya itu tak lagi ada deretan kursi-kursi plastik tempat bekas ketua GAMKI Maluku Donald Petta dan sejawatnya duduk bercerita tentang Maluku, Indonesia dan GPM.

Dibawah hijau dedaunannya, tak lagi menggemakan suara-suara kritis. Suara-suara yang menerabas kenyamanan kuasa.

Oleh takdir langit yang tak bisa dihadang, satu demi satu penghuni kelompok elit nan kritis itu sudah berpulang ke pangkuan penciptanya, termasuk Joka Kalimang pemilik warung sederhana dibawah rindang pohon mangga.

Yang tertinggal disitu saat ini cuma kenangan dari orang-orang hebat GPM.(*)